MATARAM-Bisnis menjahit pakaian punya target pasar yang luas. Pekerjaan ini dapat dijalankan dari rumah.
Larasati, alumnus DIII AKK Yogyakarta 2020 jurusan tata busana adalah salah satu generasi muda yang menggeluti dunia menjahit ini. ”Saya buka di rumah. Rumah Jahit Laras namanya, berlokasi di Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram,” jelasnya.
Meski terbilang baru dalam dunia jahit dan desain, dia sudah mendapat pelanggan tetap. Mulai untuk keperluan busana lamaran, akad nikah, resepsi, wisuda, hingga busana couple untuk lebaran diterimanya.
Sejak kecil dia memang sudah akrab dengan mesin jahit. Bakat itu diwariskan dari keluarga sang ibu. Laras juga dengan mantap memilih sekolah kejuruan di SMK Negeri 4 Mataram. ”Di sini, keterampilan saya mulai terasah,” katanya. ”Lulus SMK saya sempat bekerja lebih dahulu pada salah satu toko busana di Bertais, Kota Mataram. Ya hitung-hitung kumpulkan biaya tambahan buat kuliah,” ungkapnya.
Setelah merasa tabungan cukup, akhirnya di bisa kuliah di Yogyakarta. Pelan namun pasti, saat mulai membuka usaha di rumah sendiri, Laras bisa mendapat penghasilan yang cukup baik. Uang itu diputar sedikit demi sedikit untuk menambah peralatan jahit.
Ditanya kunci eksistensi tiga tahun usahanya, dikatakan, kepuasan pelanggan adalah intinya. Sehingga tak jarang pelanggannya kembali lagi untuk menggunakan jasanya. Bahkan, tak sedikit datang konsumen baru dari promosi pelanggannya.
Dalam sebulan, Laras bisa meraup omset hingga jutaan rupiah. Lain cerita jika memasuki momen hari besar keagamaan, bisa naik dua kali lipat. Sebab itu, jika ada yang ingin order busana couple dan lainnya harus sebulan sebelumnya. ”Alhamdulillah bisa lancar hingga saat ini,” tukasnya.
Laras menjelaskan, peluang dari menjalankan usaha satu ini dapat dilihat dengan sangat sederhana. Saat setiap orang masih membutuhkan pakaian, jasa menjahit masih akan tetap berpotensi menghasilkan uang.
Setiap produk pakaian pasti menggunakan para penjahit untuk menjahitnya. Peluang juga muncul dari setiap orang yang ingin permak dan memodifikasi pakaiannya. ”Ini karena tidak setiap orang pas dan cocok ketika membeli pakaian. Pada titik ini, usaha jasa jahit dibutuhkan untuk menyesuaikan ukuran pakaian dengan ukuran tubuh,” paparnya. (ewi/r9)
- Penjahit milenial yang baru berusia 25 tahun
- Belajar jahit dari ibu, SMK, sampai kuliah di Jogja
- Penghasilan sudah lebihi gaji karyawan kantoran