POTENSI budi daya anggur di Kabupaten Lombok Utara (KLU) sangat menjanjikan. Daerah ini didukung dengan topografi yang cocok dengan komoditas tersebut.
Seperti di Jenggala, Kecamatan Tanjung. Kelompok Tani (Poktan) Genem Anggur tengah mengembangkan destinasi wisata buah bersama pemerintah desa setempat.
”Kebetulan Jenggala mau dijadikan desa wisata anggur, jadi kita mendukung itu,” ujar Ketua Poktan Genem Anggur Ginta Satria Putra pada Lombok Post, Selasa (24/10).
Pada awalnya, pengembangan budi daya anggur ini hanya dilakukan secara pribadi. Namun setelah berkumpul dan berdiskusi bersama, akhirnya dibentuklah kelompok.
Tujuannya, agar nantinya memiliki legalitas. Serta bisa mendapat kemudahan mengakses bantuan. ”Ada 32 orang di dalamnya saat ini,” sambungnya.
Alasan lainnya, pekarangan warga Jenggala banyak yang tidak dimanfaatkan. Melalui kelompok ini, pihaknya ingin memanfaatkan itu untuk pengembangan anggur. Sebab potensinya dinilai bagus untuk perekonomian warga.
”Jadi ini kami programkan,” katanya.
Ketika memulai program ini, Ginta mengaku banyak pihak yang meremehkan. Bahkan, dianggap gila lantaran menebang pohon besar di pekarangan rumahnya.
Menurutnya, budi daya buah dengan pohon besar sudah tidak tepat lagi. Hal itu dikarenakan kondisi kawasan yang mulai padat penduduknya.
”Akhirnya tercetus diganti ke anggur, karena ini tidak berbahaya dan tidak merusak,” jelasnya.
Selama budi daya, pihaknya juga terus memberikan edukasi pada warga tentang cara merawat anggur. Saat ini, tercatat 70 persen warga Jenggala melakukan budi daya anggur di pekarangan rumahnya.
”Kami punya program satu rumah satu anggur,” ucapnya.
Peminat budi daya anggur kini terus bertambah. Terlebih setelah melihat hasilnya yang menjanjikan. Tak hanya buah, warga bisa menghasilkan uang dengan menjual bibitnya.
Saat ini tercatat ada 50 varian anggur yang dikembangkan Poktan Genem Anggur ini. Beberapa di antaranya, anggur transfiguration, Dixon, Nina Queen, CRV, Baikenur, Lendis, Arkas, Taldun, Mondrop, Harold, Spitlana, Oscar, Julian, Jupiter. Kemudian Heliodor, Tamaki, Pione, Livia, Everes, Doboskiping, Black panter, Gos V, Akademik, Lorano, Ara 15, Hallowen, Katra, dan lainnya.
Dari jumlah tersebut, beberapa jenis merupakan anggur impor. Di antaranya, Ninel, Jupiter, transfiguration, lendis, Dixon, Oscar, Julian, arkas, CRV, GosV, Harol, Lorano, Pione, Taldun, akademik, boikenur New, moondrop, basanti, taldun.
”Yang paling diminati itu anggur transfiguration, Julian, Pione, Harold, Boikenur New, GosV,” ujarnya.
Harga jual tergantung jenis anggurnya. Seperti anggur Pione dari Jepang sekitar Rp 70-80 ribu per kilogram. Ada juga yang harganya sekitar Rp 100 ribu ke atas per kilogramnya. Sedangkan untuk harga bibit, kisaran Rp 50-80 ribu per bibit.
”Yang kita kembangkan ini saja, orang-orang sudah memberi tanda bahwa mereka yang mau beli sebelum matang buahnya,” bebernya.
”Jadi banyak permintaan padahal kita baru mulai,” imbuhnya.
Ginta membeberkan, pada panen perdana pihaknya meraih penjualan hingga Rp 5,1 juta. Pohon ini masih bisa dipanen sampai tiga kali per tahun.
Bahkan lebih tergantung kesehatan batang anggur. Satu pohon anggur bisa menghasilkan rata-rata lima kilogram anggur dalam sekali panen. ”Pohon yang ditanam kurang lebih 100 pohon,” katanya.
Dari jumlah tersebut, masing-masing anggota Genem Anggur menanam lima hingga tujuh pohon. Semakin luas lahan pekarangan, maka semakin banyak pohon yang ditanam. Bahkan ada yang menanam hingga belasan pohon anggur.
”Hasil Rp 5,1 juta ini karena kadang teman-teman tidak semuanya menjualnya, kadang dibagi atau disedekahkan ke tetangga, sahabat dan keluarga,” jelasnya.
Dalam pengembangan wisata anggur nantinya, pihaknya bekerja sama dengan BUMDes. Berkat program budi daya anggur ini, setiap anggota kelompok bisa menambah pendapatan.
”Harapan kita, semoga kelompok Genem Anggur makin sukses, pemerintah tetap mendukung, baik pemerintah desa, kabupaten, hingga provinsi,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida