LombokPost-Bank Indonesia Perwakilan NTB menggelar diseminasi laporan perekonomian NTB tahun 2023, di Mataram, Rabu (25/10).
Kegiatan ini bertujuan membuka sumber baru untuk pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata berkualitas.
Kegiatan menghadirkan berbagai stakeholder terkait. Mulai dari perbankan, pelaku UMKM, pelaku pariwisata hingga pemerintah daerah.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, Founder Indonesia Ecotourism Network (Indecon) Ari Suhandi, GM Rinjani Geopark M Farid Zaini, dengan moderator Dosen FEB Unram Firmansyah.
Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB Ahmad Fauzi menjelaskan, pariwisata menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi di NTB.
Seiring dengan berakhirnya pandemi Covid-19, aktivitas pariwisata NTB menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini tercermin dari jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang terus meningkat.
”Perbaikan iklim kinerja pariwisata turut memberikan dampak positif bagi pariwisata nasional,” ujarnya.
Berdasarkan triwulan IV 2023 (data hingga Oktober,Red), jumlah wisatawan domestik maupun internasional masing-masing tumbuh 38,99 persen year on year (yoy) dan 157,45 persen (yoy). Persentase ini meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Momentum pertumbuhan wisatawan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan positif tersebut.
Termasuk pengembangan DPSP Mandalika sebagai destinasi unggulan Provinsi NTB. ”Dengan bermodalkan atraksi dan aksesibilitas yang terus berkembang, ke depan sektor pariwisata dapat menjadi new source of Growth bagi perekonomian Provinsi NTB,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya pertumbuhan ekonomi saat ini terus membaik. Meski pun disertai dengan pergeseran pertumbuhan.
Sejalan dengan hal tersebut, pemulihan ekonomi domestik juga terus didorong dan ditompang oleh lapangan usaha. Ini mencatat pertumbuhan positif dengan penurunan inflasi yang lebih cepat dari sebelumnya. ”Demikian pula halnya dengan kondisi regional. Stabilitas perekonomian NTB turun didukung dengan tekanan inflasi yang telah mereda,” kata Fauzi.
Berdasarkan rilis BPS NTB, capaian inflasi sampai pada September 2023 mengalami tren penurunan dan tercatat di angka 2,29 persen.
Angka ini berada di angka rata-rata nasional 3,1 persen. Hal ini tidak terlepas dari upaya penurunan inflasi yang secara konsisten dilakukan.
Namun ekonomi NTB di triwulan II tercatat mengalami kontraksi di angka -1,54 persen.
Sebab sektor pertambangan mengalami penurunan yang mendorong kontraksi pada ekspor luar negeri. Di sisi lain, penurunan lebih dalam relatif tertahan oleh akselerasi pertumbuhan di sektor konstruksi dan transportasi masing-masing 14,93 persen. ”Pada keseluruhan 2023, kami memperkirakan ekonomi NTB akan tumbuh positif meskipun melandai,” sambungnya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan positif didukung oleh tingkat konsumsi yang lebih baik, serta peningkatan investasi. Hal ini seiring dengan berlangsungnya pembangunan smelter yang ditargetkan selesai di awal 2024.
Secara sektoral, pertumbuhan didukung peningkatan kinerja sektor perdagangan dan konstruksi. Pertumbuhan lebih lanjut relatif tertahan oleh penurunan kinerja di sektor pertanian.
Hal ini akibat dampak dari kemarau atau El Nino dan berkurangnya pupuk subsidi. ”Keterlambatan perolehan izin kuota ekspor juga berdampak pada ekspor tambang yang lebih rendah di tahun 2023,” tandasnya.
Founder Indecon Ari Suhandi mengatakan, pariwisata dan ekonomi kreatif (Parekraf) Indonesia terus bangkit pada tahun 2023 ini. Kunjungan wisman ke Indonesia hingga Juli mencapai 6,31 juta. ”Angka ini lebih besar 196,85 persen dibandingkan periode yang sama pada 2022,” ujarnya.
Dikatakannya, capaian jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 433,57 juta perjalanan. Jumlah ini meningkat sebesar 12,57 persen dibandingkan 2022 lalu.
Sedangkan nilai ekspor Januari hingga Juni 2023 mencapai USD 11,82 miliar. Meningkat 44,67 persen dari target tahun ini USD 26,46 miliar.
Sektor fesyen berkontribusi sebesar USD 6,56 miliar atau 55,52 persen. Disusul oleh kuliner USD 4,46 miliar atau 37,70 persen, dan kriya USD 792,67 juta atau 6,71 persen.
Sejumlah lembaga seperti IMF, World Bank, hingga OECD memperhitungkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar lima persen pada tahun 2023 dan 2024.
Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan negara-negara kuat lainnya di kawasan AsiaPasifik seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. ”Pariwisata itu kompleks,” sambungnya.
Di satu sisi, pariwisata memberikan peluang besar untuk ekonomi, lapangan kerja, magnet bagi sektor lain bergerak, kontribusi pada pelestarian alam dan budaya. Namun sisi lainnya juga memberikan dampak negatif kuat yang mempengaruhi degradasi alam dan budaya yang menjadi aset utama.
Baca Juga: Ketika Guiqiao Indonesia Berkumpul sebagai Bentuk Kecintaanya pada Indonesia
”Oleh karenanya perlu dikelola dengan manajemen yang kuat dan adaptif. Mengedepankan kolaborasi untu memaksimalkan manfaat dan mencapai keberlanjutan,” jelasnya.
Sementara pariwisata berkualitas, mengacu pada pengalaman perjalanan yang menekankan standar layanan tinggi.
Juga otentisitas, keberlanjutan, dan kepuasan pelanggan secara keseluruhan. Lebih dari sekadar berwisata melihat pemandangan indah.
Namun mengedepankan pengalaman yang bermakna dan meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap pelestarian alam. Juga budaya, dan sosial di destinasi yang dikunjungi.
”Pariwisata berkualitas melibatkan atraksi yang dikelola dengan baik, layanan yang personal, dan komitmen terhadap praktik yang bertanggung jawab dan etis dalam industri pariwisata,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida