LombokPost- Budi daya jamur di bonggol jagung cukup diminati masyarakat Desa Bunut Baok, Kabupaten Lombok Tengah. Bagaimana tidak, peminat jamur ini terbilang cukup tinggi dengan proses tanam yang tidak begitu sulit.
Seperti yang dilakoni Sodri, warga Dusun Prandap itu sukses membudidayakan jamur yang bernilai ekonomis sejak 2022 lalu. Sedikit berbeda dari biasanya, budi daya jamur ini dilakukan Sodri dengan memanfaatkan limbah bonggol jagung sebagai media tanamnya.
Dari budi daya tersebut, Sodri bisa meraup keuntungan hingga jutaan rupiah per bulannya. Berawal dari melihat kakaknya melakukan budi daya jamur tiram sebagai usaha sampingan. Dirinya pun tertarik melakukan hal serupa.
Namun tak seperti kakaknya, Sodri ingin fokus membudidayakan jamur, bukan sebagai sampingan. Hal ini lantaran dia melihat usaha kakaknya itu tidak berjalan maksimal.
Sodri akhirnya memutuskan melakukan budi daya jamur bonggol jagung. Hal ini dipilihnya bukan tanpa sebab. Bonggol jagung dinilai memiliki kelebihan dibandingkan menggunakan jerami sebagai media tanam.
Di antaranya, masa panen jamur bonggol jagung hingga satu bulan, bahkan lebih. Sedangkan media tanam jerami, masa panennya hanya selama 15 hari. Di samping itu, bonggol jagung dinilai lebih mudah diperoleh. Mereka cukup memesannya di gudang besar jagung Lombok Timur.
”Minimal pembelian satu truk untuk dapat diantarkan ke tempat,” katanya.
Untuk proses budi daya, kata Sodri seluruh media tanam diletakkan dalam rak yang terbuat dari bambu. Estimasi ukuran lokasi budi daya sekitar 1,30 meter dengan metode dua rak susun yang dipajang di pekarangan kosong rumah. ”Sejak dikembangkan, hasil panen jamur terus meningkat hingga puluhan kilogram setiap harinya hingga non produktif nantinya,” bebernya.
Mengenai modal yang dikeluarkan, akumulasi hingga siap panen menghabiskan sekitar Rp 700-800 ribu. Untuk pertumbuhannya, sejak diracik hingga dua minggu ke depannya sudah bisa panen. Sedangkan yang tidak normal, panen baru bisa dilakukan setelah sebulan proses pertumbuhan.
”Tergantung juga pada cuaca, itu juga berpengaruh maupun bonggolnya,” ujarnya.
Dikatakannya, bonggol jagung yang baru dipanen juga kurang bagus digunakan sebagai media tanam. Bonggol jagung ini harus dibiarkan agak lama sebelum akhirnya digunakan sebagai media tanam. ”Agar pertumbuhan jamurnya bagus,” ucapnya.
Saat ini, kata Sodri sudah banyak warga yang melakukan budi daya jamur bonggol jagung ini. Hal ini juga menjadi solusi bagi mereka untuk mendapatkan uang pasca pandemi Covid-19. Satu kilogram jamur bonggol jagung biasa dijual seharga Rp 40 ribu di pasaran. ”Keuntungannya bisa sampai jutaan rupiah dengan modal yang tidak besar,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida