LombokPost-Keberadaan aglomerasi pabrik hasil tembakau (APHT) di Lombok Timur (Lotim) sejauh ini telah menyerap 200 tenaga kerja lokal.
”Target di tahun 2024 dapat menyerap 750-1.000 pekerja,” ujar Penanggung Jawab APHT Lotim Gaguk Santoso.
Dikatakannya, para pekerja di lingkup APHT merupakan masyarakat sekitar. Mereka diberdayakan untuk menghasilkan lintingan rokok rata-rata 2.000 batang per hari. Para pekerja ini diberikan gaji sebesar Rp 105 ribu per harinya. ”Upahnya menggunakan model borongan,” sambungnya.
Gaguk berharap, ke depan ada banyak perusahaan yang masuk dalam APHT. Sehingga pihaknya bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja local. ”Dengan adanya APHT ini, masyarakat sekitar dapat terserap sebagai tenaga kerja,” katanya.
Ditambahkannya, kualitas rasa rokok yang dihasilkan di APHT diyakini bisa bersaing. Produk rokok yang dihasilkan di APHT ini menghadirkan kualitas terbaik dengan harga terjangkau.
Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengatakan, Lombok Timur memiliki berbagai jenis tembakau. Tembakau-tembakau tersebut bahkan menjadi primadona di tengah masyarakat. ”Itu kita coba serap agar nilai jualnya lebih tinggi,” ujarnya.
Dijelaskannya, Lombok Timur menjadi kabupaten dengan jumlah industri rokok terbesar di NTB. Beberapa jenis tembakau yang menjadi primadona di antaranya, tembakau korba, kasturi, senang, sang dan lain sebagainya. ”Tentu ini menjadi nilai tawar tersendiri karena NTB menjadi salah satu dari tiga wilayah di Indonesia yang menjadi provinsi terbesar dalam memproduksi tembakau,” jelasnya.
”Ini adalah potensi besar daerah NTB yang harus terus dirawat dan dijaga untuk NTB maju dan terus melaju,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida