Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sukses Budidaya Melon, Warga Segala Anyar, Pujut Penen Cuan Jutaan Rupiah

Galih Mega Putra S • Rabu, 17 Januari 2024 | 10:10 WIB
MENJANJIKAN: Rustamin, petani melon yang tengah memanen melon golden, di Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pekan lalu.(FERIAL/LOMBOK POST)
MENJANJIKAN: Rustamin, petani melon yang tengah memanen melon golden, di Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pekan lalu.(FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Potensi bisnis buah melon golden terbilang cukup menjanjikan. Berkat menekuni bisnis ini, Rustamudin, petani asal Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah bisa meraup keuntungan belasan juta rupiah tiap panennya.

Rustamudin mengelola lahan seluas 10 are untuk budi daya melon golden. Dari lahan tersebut, dirinya berhasil memanen melon golden hingga empat ton. Dalam setahun, panen melon golden ini dilakukan sebanyak tiga kali.

”Dalam sekali panen keuntungannya mencapai Rp 15 jutaan,” ujarnya.

Dijelaskannya, satu batang tanaman bisa menghasilkan sebanyak empat buah melon golden. Setelah panen, melon-melon golden ini kemudian langsung dibawa ke pasar buah di Bertais, tanpa melalui pengepul.

Selain ke Bertais, buah melon golden ini juga dikirimkan ke luar NTB. belum lama ini dikirimkan ke Bali dan Pulau Jawa.

”Saya kirim satu fuso ke Jawa dan Bali,” bebernya.

Selain melon golden, dirinya juga membudidayakan melon biasa. Melon biasa ini dijual seharga Rp 7.500 per kilogram. Sedangkan melon golden dijual belasan ribu rupiah per kilogramnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, untuk modal bisnis ini, hanya Rp 15 juta. Pada saat panen pertama, menghasilkan penjualan bruto sebesar Rp 30 juta. Artinya, keuntungan yang didapatkan sebesar 50 persen dari jumlah penjualan tersebut.

”Ini bisa tiga kali panen, jadi kalau Rp 15 juta dikalikan 3, itu dah keuntungannya,” jelasnya.

Meski menghasilkan keuntungan yang besar, namun perawatan melon ini diakuinya cukup ribet. Hal itu lantaran melon termasuk rentan penyakit. Meski begitu, Rustamudin dan petani melon lainnya tetap belajar mengantisipasi dan meminimalisir persoalan tersebut. ”Kalau melihat potensi melon sekarang banyak juga yang mau tanam, soalnya menjanjikan pasarnya,” terangnya.

Ditambahkannya, petani di Desa Segala Anyar saat ini banyak yang memilih menanam melon dibandingkan padi maupun palawija. Hal itu dikarenakan harga jualnya yang bagus dengan waktu panen yang singkat, hanya dua bulan.

”Memang untuk panen kedua dan ketiga berkurang, tidak seperti panen pertama, tapi hasilnya tetap menjanjikan,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Redaksi Lombok Post
#UMKM #Melon #Petani