Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bisnis Minuman Jeruk Peras Laku Keras di Mataram

Galih Mega Putra S • Rabu, 6 Maret 2024 | 17:35 WIB
LAYANI PEMBELI: Penjual minuman tiga varian jeruk peras, Sukriadi tengah melayani pembeli di Udayana. (FERIAL/LOMBOK POST)
LAYANI PEMBELI: Penjual minuman tiga varian jeruk peras, Sukriadi tengah melayani pembeli di Udayana. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Dari bahan baku tiga jenis jeruk, jeruk lokal, lemon, dan sunkist, Sukriadi bisa menghasilkan penjualan hingga jutaan rupiah per hari.

Pria asal Kelurahan Karang Baru, Kota Mataram ini berjualan minuman jeruk peras segar di salah satu sudut Taman Udayana.

”Saya jual jeruk peras dengan tiga jenis jeruk agar pembeli punya pilihan, karena saya lihat hampir semua yang jualan jeruk peras itu hanya jeruk biasa saja,” ujarnya pada Lombok Post.

Dijelaskannya, berjualan jeruk peras itu memang menjanjikan.

Apalagi ketika kondisi cuaca yang sangat panas.

Hanya saja, usaha jenis ini tentu banyak bertebaran di sepanjang jalan Kota Mataram.

Sebagai orang yang pernah merantau ke Pulau Jawa dan bekerja sebagai marketing, tentu perlu inovasi untuk menarik konsumen.

Sebelum memutuskan berjualan, Sukriadi melakukan survei terlebih dulu. Dari sana, dia pun memutuskan untuk membuat tiga varian jeruk peras.

”Memang paling banyak itu jeruk peras biasa, lemon dan sunkist lumayan penikmatnya,” sambungnya.

Dimulai dari usaha kecil dengan bahan baku satu kilogram jeruk biasa, sunkist dan lemon sekitar 2-3 buah.

Ternyata respons pembeli lumayan banyak terhadap tiga varian jeruk perasnya.

Akhirnya bahan baku pun bertambah menjadi 2-5 kilogram per harinya. ”Karena bagus, akhirnya saya beli bahan baku keranjangan sekarang,” bebernya.

Soal harga, jeruk peras biasa dijual Rp 5 ribu per cup. Untuk varian lemon, dijual mulai dari Rp 5-8 ribu per cup.

Kemudian varian sunkist dijual seharga Rp 10-12 ribu per cup.

Pembeli juga bisa menambahkan pilihan toping madu seharga Rp 2.000 dan yakult Rp 3.000.

”Sunkist itu awalnya hanya Rp 10 ribu harganya, tapi karena harga jeruknya naik, jadinya kadang Rp 12 ribu kita jual, tapi cup yang dipakai besar,” jelasnya.

Sukriadi menjalankan usahanya selama hampir satu tahun, tepatnya sejak Ramadan 2023 lalu.

Awalnya dia berjualan menggunakan gerobak kecil atau setengah dari ukuran gerobaknya saat ini.

Bahan baku yang digunakan Sukriadi, diklaimnya masih segar.

Jeruk biasa didatangkan langsung dari Pulau Jawa, seperti Lumajang, Banyuwangi, Jember, dan lainnya.

Sedangkan untuk sunkist, dirinya menggunakan jenis impor dari California, Korea, China, dan Jepang.

”Kalau lemon sudah ada banyak di sini,” katanya.

Dia biasa membeli jeruk satu keranjang dengan berat 60-64 kilogram.

Ketika cuaca panas, satu keranjang jeruk ini habis hanya dalam waktu dua hari saja.

Sedangkan untuk sunkist, satu keranjang habis dalam waktu 4-5 hari.

Di akhir pekan seperti Car Free Day, satu keranjang Sunkist berisi 64-72 buah langsung habis saat itu juga.

”Kalau lemon ini kadang 5-6 hari habisnya untuk satu kardus dengan isi 88-100 buah,” akunya.

Dari ketiga varian jeruk peras ini, sunkist dan jeruk biasa yang kadang susah dicari bahan bakunya.

Selain itu, harganya pun selalu fluktuatif.

Sedangkan untuk lemon, harganya tetap stabil dan stoknya ada.

”Dari tiga varian ini paling cepat habis itu jeruk biasa, kemudian sunkist, baru lemon,” bebernya.

Untuk penjualan harian, dirinya menghabiskan sebanyak 3-4 bungkus cup isi 50.

Artinya, dirinya bisa menjual sekitar 150-200 cup per hari.

Jika tidak hujan, bahkan penjualan per gelasnya bisa melebihi itu.

Bahkan ketika sangat ramai, penjualannya pernah mencapai Rp 2 juta dalam sehari.

”Soal rasa, itu tergantung pembeli, mau manis, kecut, atau sedang, pokoknya apa yang mereka minta itu kita layani,” ujarnya.

”Jarang jualan sampai sore, kadang jam 11 atau 12 itu sudah habis,” pungkasnya. (fer/r9)

 

Editor : Kimda Farida
#UMKM #jeruk #Mataram