LombokPost-Di momen lebaran topat, puluhan penjual ketupat dan opor dadakan beramai-ramai membuka lapak jualan di sepanjang jalan Majapahit hingga Kelurahan Punia, Kota Mataram, Rabu (17/4).
Meski hanya sehari, pendapatan para penjual kuliner khas lebaran ini mencapai jutaan hingga belasan juta rupiah.
Salah satu penjual ketupat di pinggir jalan Punia, Ekawati mengatakan penjual ketupat di lebaran kali ini lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Mereka dominan berasal dari lingkungan yang sama, yakni Kelurahan Punia.
”Yang jualan ini semuanya satu gubuk (tempat asal, Red),” ujarnya.
Dibeberkan Eka, berjualan ketupat memang sudah menjadi tradisi mereka setiap lebaran topat.
Tak hanya saat lebaran topat, mereka juga akan berjualan pada saat momen Idul Adha.
Satu ikat berisikan lima sampai enam buah ketupat. Itu tergantung dari keinginan masing-masing penjual.
Namun dirinya menjual satu ikat yang berisi lima buah ketupat dengan ukuran yang besar.
”Harga jualnya Rp 20 ribu per ikat,” sambungnya.
Selain ketupat, dirinya juga menyediakan lontong, opor, urap sayur, sayur ares pesor isi pisang dan kacang, dan minuman jeruk.
Untuk pesor, Eka mengaku harganya juga Rp 20 ribu per ikat dengan isi enam.
”Semua orang yang jual di sini harganya sama, tidak boleh ada yang lebih mahal atau murah karena memang ini sudah kesepakatan bersama,” jelasnya.
Perbedaan antara para penjual, kata Eka terletak pada ukuran ketupat dan rasa lauk pendampingnya.
Para pembeli bebas menentukan sendiri di pedagang mana ingin membeli ketupat dan lainnya.
Berbicara soal produksi, di lebaran topat kali ini dirinya hanya membuat ketupat dari 100 kilogram beras. Satu kilogram beras itu bisa menghasilkan 30 buah ketupat ukuran besar.
”Pesor juga sama 100 kilogram, semakin besar ukuran ketupat semakin sedikit jumlahnya dalam per satu kilogram,” terangnya.
Dari 100 kilogram tersebut, dirinya bisa menghasilkan sekitar 3.000 ketupat.
Jika dikalikan harga Rp 20 ribu per lima buah dalam satu ikat, maka penjualannya bisa mencapai belasan juta.
Belum termasuk pendapatan dari penjualan lauk pendamping ketupat dan pesornya.
”Dalam sehari ini semuanya habis terjual, tidak ada tersisa,” akunya.
”Bahkan dulu pernah buat hingga satu ton untuk ketupat ini habis saja. karena memang mungkin kita jualan di Mataram, bukan seperti daerah lain,” imbuhnya.
Menurutnya, warga Kota Mataram ini lebih banyak merupakan pendatang.
Selain itu, kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang sibuk. Sehingga memilih ketupat yang sudah matang menjadi pilihan lebih praktis.
”Tidak mau ribet, makanya suka beli yang jadi saja. Jadi berapa pun kita jualan akan habis saja,” tandasnya.
Penjual ketupat lainnya Teni menambahkan, dirinya menjual dua ukuran ketupat.
Yakni ketupat besar dengan isi lima buah per ikat dan ketupat kecil dengan isi enam buah per ikat.
”Harganya tetap sama, Rp 20 ribu. Untuk lauk pendampingnya ada sayur ares, opor ayam dan telur, serta urap-urap,” bebernya.
Selain dibeli untuk dibawa pulang, para pembeli juga cukup banyak yang menikmati langsung ketupat di lapaknya.
Dirinya menjual per porsi ketupat untuk dimakan di tempat juga sebesar Rp 20 ribu.
”Itu sudah lengkap, dapat opor ayam, telur, sayur ares dan urap. Ada juga tambahan kerupuk kulit bagi yang berminat,” terangnya.
Meski hanya berjualan sehari, namun prospek jualan ketupat dan opor di momen lebaran cukup menjanjikan. Sebab pembelinya hampir tidak pernah sepi.
”Biasanya sore hari sudah ludes semua,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida