LombokPost-Nama Kampung Cokelat Senara di Desa Genggelang, Lombok Utara semakin populer.
Sebagai pusat penghasil kakao atau cokelat terbesar di NTB, banyak produk turunan yang telah dihasilkan.
Beberapa di antaranya, bubuk cokelat, minuman cokelat, cokelat bar, dan biji cokelat roasting. Juga ada permen cokelat, hingga minyak cokelat yang menjadi bahan utama kosmetik.
Keberadaan Kampung Cokelat Senara ini cukup populer di kalangan wisatawan. Baik itu wisatawan lokal hingga mancanegara. Tiap hari, kunjungannya kisaran 50-100 wisatawan.
Hal itu lantaran Kampung Cokelat Senara kini sudah dijadikan sebagai destinasi wisata edukasi. Harga tiket masuknya Rp 5.000 saja per orang.
Pengelola Kampung Cokelat Senara Pardan mengatakan, banyak wisawatan asing maupun nusantara yang tertarik dengan keberadaan Kampung Cokelat.
Selain menikmati produk olahan cokelat yang dihasilkan, mereka antusias mengunjungi kebun cokelat yang ada.
Termasuk melihat proses pengolahan cokelat menjadi berbagai produk.
”Mereka (Wisman, Red) suka melihat kebun dan menikmati minuman cokelat yang ada di sini. Tidak jarang juga yang beli untuk dibawa pulang jadi oleh-oleh,” ujarnya.
Untuk mengolah cokelat ini, pihaknya memiliki mesih pengolah, mesin sangrai, mesin pembubuk kakao, mesin pengayak kakao, dan lainnya. Semua itu merupakan bantuan dari Kemendes PDTT di akhir 2018 lalu.
Berkat mesin tersebut, Kampung Cokelat Senara bisa berproduksi lebih aktif lagi. Dari 10 kilogram cokelat, bisa menghasilkan 3,5 kilogram bubuk cokelat murni, dan 1,8 kilogram minyak cokelat per hari.
Bubuk cokelat murni ini biasa digunakan untuk membuat olahan berbahan dasar cokelat.
Selain itu, Kampung Cokelat Senara juga mengembangkan minuman kemasan sachet aneka rasa. Di antaranya, minuman cokelat murni, cokelat jahe, cokelat kopi, dan lainnya.
Ada juga produk cokelat bar yang dikenal dengan nama Datu Cokelat Lombok.
”Kami belum bisa menghitung berapa laba karena pengolahan secara mesin baru berjalan sebulan,” jelasnya.
Pardan menuturkan, bantuan mesin yang didapatkan sangat membantu produksi olahan cokelat. Sebab selain bisa membuat aneka cokelat, pihaknya juga bisa menjual bubuknya.
Hanya saja, untuk saat ini pihaknya belum bisa membuat cokelat batang, lantaran belum ada mesin pengolahnya.
”Sekarang masih cokelat fermentasi,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakannya, selain sebagai sentra produksi cokelat, Kampung Cokelat Senara juga menjadi destinasi wisata edukasi. Ada banyak pelajar hingga mahasiswa yang datang berkunjung untuk belajar mengenai proses pengolahan cokelat.
”Mereka melihat kebun cokelat, tempat penjemuran cokelat, hingga tempat oleh-oleh yang menjual berbagai olahan cokelat, dan lainnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida