LombokPost-Siapa sangka, hanya dari limbah sampah masyarakat bisa menghasilkan cuan puluhan juta rupiah.
Hal yang terkesan mustahil ini diwujudkan Husni Hari, owner Rumah Kreatif Bank Sampah Linsi.
”Sejarah rumah kreatif ini panjang, kita menjalani pengolahan sampah ini tidak semua orang bisa dan mau,” tuturnya.
Mengolah sampah diakuinya membawa banyak berkah. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, juga membantu perekonomian keluarga.
”Sekaligus sebagai sarana meraih pahala, kita tidak menilai dari berapa kita dapat uang, tapi bagaimana menjaga lingkungan,” sambungnya.
Dijelaskan, dalam mengelola sampah menjadi produk bernilai ekonomi, dirinya memberdayakan masyarakat.
Terutama dalam mengumpulkan sampah-sampah yang bisa diolah. Sedangkan yang tidak bisa diolah akan ditimbang untuk dijual.
”Sampah yang diolah adalah bungkus kopi maupun minuman, itu bisa jadi topi, dompet,tas dan lainya seperti gantungan kunci,” beber perempuan yang akrab disapa Umi Lin ini.
Sebelum diberdayakan, masyarakat-masyarakat yang direkrut akan diajari terlebih dahulu. Mulai dari cara menggunting, mencuci, menjemur, hingga mengolah sampah tersebut.
Pihaknya membeli hasil olahan masyarakat dalam bentuk setengah jadi.
Kemudian dibawa ke rumah kreatif untuk diolah lebih lanjut sebagai aneka tas, dompet, dan produk lainnya.
Selain limbah plastik, pihaknya juga mendaur ulang sampah sisa kain perca, hingga sisa baliho dan banner.
Dari limbah ini, pihaknya menghasilkan produk tas belanja, tas laundry, dan lainnya.
Berbicara soal harga, produk buatan Rumah Kreatif Bank Sampah Linsi dimulai dari kisaran Rp 5.000 hingga Rp 250 ribu.
Harga Rp 5.000 ini untuk produk-produk kecil seperti gantungan kunci dan dompet koin. Untuk topi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu.
”Rp 250 ribu ini untuk harga tas, tapi ada juga tas yang harganya di bawah itu,” kata perempuan berhijab ini.
Umi Lin mengatakan, pihaknya juga membuka kursus yang memberikan pelatihan mengenai pengolahan sampah menjadi barang kerajinan bernilai ekonomi.
Terkait produksi, dirinya mengaku tidak dilakukan setiap hari. Produk-produk tersebut dibuat berdasarkan pesanan yang masuk. Meski begitu, pihaknya selalu menyimpan stok minimal 100 biji.
”Kadang 50-60 orang nyari, begitu ada pesanan lagi, langsung kita bergerak,” ujarnya.
Produk buatan Umi Lin ini tidak hanya diminati dalam daerah saja, namun juga hingga ke luar negeri. Pihaknya juga telah menjalin kemitraan dengan sejumlah OPD hingga kementerian. Berkat itu, omzet Rumah Kreatif Bank Sampah Linsi terbilang cukup besar.
”Seperti kegiatan di Sekotong kemarin, kita dapat lebih dari Rp 40 jutaan,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida