Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Juli 2024, Mataram Alami Inflasi Tahunan Tertinggi di NTB

Geumerie Ayu • Jumat, 2 Agustus 2024 | 11:52 WIB
MERANGKAK NAIK: Salah satu lapak penjualan sembako di Pasar Pagesangan, Mataram, beberapa waktu lalu.
MERANGKAK NAIK: Salah satu lapak penjualan sembako di Pasar Pagesangan, Mataram, beberapa waktu lalu.

LombokPost--Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2024 berdasarkan data BPS NTB menunjukkan adanya kenaikan.

Dari tiga derah pantauan di NTB, menunjukkan inflasi (yoy) sebesar 1,91 persen, atau kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 103,73 (2023) menjadi 105,71 (2024).

”Inflasi berdasarkan kalender tahunan tertinggi terjadi di Kota Mataram, sebesar 2,47 persen,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin, Kamis (1/8).

Dikatakannya, pada Juli 2024 seluruh wilayah IHK di NTB mengalami inflasi yoy (year on year).

Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kota Mataram sebesar 2,47 persen dengan IHK sebesar 105,86.

Kemudian Kota Bima sebesar 1,98 persen dengan IHK sebesar 105,26, dan Kabupaten Sumbawa sebesar 1,14 persen dengan IHK sebesar 105,65.

Secara kalender bulanan (m to m), NTB mengalami deflasi sebesar -0,35 persen.

Komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan di antaranya, tomat, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, kol putih/kubis, sawi hijau, cabai merah, bawang putih, ayam hidup, bayam, pepaya, ikan tongkol, daun bawang, udang basah, kacang panjang, dan lainnya. 

Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi bulanan pada Juli 2024 di antaranya cabai rawit, ikan layang, angkutan udara, rekreasi, sigaret kretek mesin (SKM), beras, kangkung, bimbingan belajar, emas perhiasan, pisang, cumi-cumi, sewa rumah, dan lainnya.

Sementara secara kalender tahunan, inflasi NTB ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran.

Di antaranya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,05 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,60 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,42 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,11 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,67 persen.

Kelompok transportasi sebesar 1,36 persen. Kelompok pendidikan sebesar 1,05 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,91 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,72 persen.

”Komoditas beras menyumbang inflasi kalender tahunan sebesar 0,58 persen, kalau cabai rawit sebesar 0,13 persen,” sambungnya.

Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi berdasarkan kalender tahunan di antaranya, ikan layang sebesar 0,18 persen.

Ikan tongkol 0,11 persen, ikan kembung 0,08 persen, dan udang basah 0,07 persen.

Komoditas bawang merah 0,06 persen, bawang putih, daging ayam ras dan ikan bandeng masing-masing 0,05 persen.

Tomat 0,03 persen, jeruk nipis, dan tongkol diawetkan masing-masing sebesar 0,02 persen.

Kemudian telur ayam ras, daging sapi, kubis, terong, buah pir, ikan tenggiri, asam, kecambah, dan garam masing-masing sebesar 0,01 persen. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Inflasi #BPS NTB