LombokPost-Usaha buah lontar di NTB, khususnya Lombok terbilang cukup populer saat ini.
Banyaknya peminat membuat banyak orang kini tertarik menggeluti usaha berjualan buah tersebut.
Penjual buah lontar ini dapat ditemukan di beberapa titik jalan raya.
Salah satunya ada di jalan raya Pusuk Lestari, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara.
Meski bukan di perkotaan, namun hasil penjualan buah ini cukup besar.
“Buka pagi sekitar jam setengah 9, jam 10 sudah habis terjual,” ujar Mahsun, penjual buah lontar di Pusuk Lestari itu.
Mahsun menuturkan, dirinya tertarik menggeluti usaha jualan buah lontar, berawal dari viralnya penjualan buah tersebut di Pulau Jawa.
Kemudian mencoba peruntungan di Lombok dengan membeli pasokan buah lontar di Malaka, Pemenang.
“Alhamdulillah dapat respons yang sangat baik, banyak yang tertarik beli,” sambungnya.
Awalnya, dirinya mencoba berjualan dengan belasan buah lontar saja. Seiring dengan banyaknya peminat, dirinya bisa menjual hingga puluhan buah lontar per harinya.
Satu buah lontar ukuran besar dijual seharga Rp 25 ribu. Sedangkan untuk ukuran kecil dijual sebanyak 3 buah per 50 ribu.
Dari penjualan buah tersebut, Mahsun bisa meraup penjualan ratusan ribu per harinya.
“Dari awalnya 12 buah sekarang bisa jual 20-30 buah lontar, sehari bisa dapat Rp 300- 350 ribu, tergantung ukurannya,” katanya.
Buah lontar ini banyak diminati pembeli lantaran khasiatnya.
Selain rasanya yang manis dan segar, buah lontar dipercaya bisa meredakan panas dalam, asam lambung, dan lainnya.
Hanya saja, tantangan usaha ini adalah buahnya yang semakin sedikit.
Di tempat biasa dirinya mengambil suplai, buahnya kini semakin jarang. Bahkan pohonnya pun kini juga terus berkurang.
“Sekarang jarang pohonnya. Kalau zaman dulu banyak, sekarang kadang satu-dua pohon di tanah orang, karena ini tumbuh sendiri,” jelasnya.
Mensiasati persoalan tersebut, dirinya mengambil suplai dari daerah lainnya.
Tentunya dengan harga sedikit berbeda lantaran harus menambah biaya pengiriman sehingga dirinya terpaksa juga ikut menaikkan harga jual, namun tidak besar.
“Prospek jualan buah ini tetap bagus, meski agak naik harganya tetap dibeli karena rasa dan khasiatnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida