LombokPost--Setelah cukup lama ditutup, pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) ke Malaysia bagian barat dibuka kembali.
Pihak perusahaan perkebunan sawit Malaysia PT FGV membuka 5.000 lowongan pengiriman PMI.
Dari jumlah tersebut PT Cipta Rezeki Utama (CRU) siap mengirim 1.250 PMI.
”Malaysia khususnya untuk semenanjung atau populernya kita sebut Malaysia barat Alhamdulillah sudah dibuka oleh Pemerintah Malaysia sejak Agustus 2024 lalu,” jelas Komisaris Utama PT CRU H Edy Sofyan.
Namun efektifnya proses perekrutan mulai bulan September ini.
Pembukaan tidak dilakukan 100 persen tetapi disebut kelulusan khas.
Artinya, tidak semua perusahaan perkebunan sawit di Malaysia diberikan izin merekrut PMI.
Yang diberikan kuota oleh pemerintah Malaysia hanya perusahaan perkebunan sawit yang selama ini menjalankan SOP yang telah diterapkan.
Kuota perekrutan PMI ini juga diberikan hanya enam bulan.
Dalam enam bulan ke depan, semua proses perekrutan PMI sudah harus selesai. Mulai dari proses tender yang dilakukan pihak perusahaan perkebunan sawit dengan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI).
”Dari tender yang diikuti oleh 30 perusahaan se-Indonesia, PT Cipta Rezeki Utama menang tender bersama enam perusahaan lainnya,” ujar Haji Edy.
”Dilihat dari performance P3MI, kami PT Cipta Rezeki Utama peringkat pertama pengiriman PMI,” lanjutnya.
Baca Juga: Edan, Sepasang Kekasih di Kota Bima Edarkan Sabu Pakai Mobil Dinas
Proses seleks calon PMI pun sudah dimulai sejak 9 September sampai tanggal 20 September. Dalam proses seleksi ini, turut hadir pihak dari PT FGV untuk memantau.
Calon PMI tidak boleh berusia kurang dari 18 tahun dan lebih dari 45 tahun.
Kemudian calon PMI juga diwajibkan bisa baca tulis.
”Ini saringan pertama. PMI ini bisa ke Malaysia minimal ada tiga tahapan,” jelasnya.
Setelah itu, nanti ada seleksi kesehatan. Yang menentukan nanti adalah pihak klinik.
Seleksi tahap tiga adalah pengecekan administrasi visa hingga bestinet. Pihak Malaysia akan memeriksa rekam jejak calon PMI.
”Nanti di sana akan teridentifikasi,” tandasnya.
Minimal gaji yang didapatkan para PMI di perusahaan resmi paling rendah Rp 5 juta paling tinggi bisa mencapai sekitar Rp 30 juta. Tergantung hasil kerja para PMI itu sendiri.
Tak kalah penting, pembiayaan pemberangkatan PMI gratis atau zero cost.
Semua ditanggung perusahaan perkebunan yang ada di sana. ”Jadi calon PMI tidak mengeluarkan biaya apa pun,” tegas Edy.
Rusni, staf rekrut atau petugas lapangan mengatakan pembukaan pengiriman PMI ke Malaysia menjadi kabar gembira bagi masyarakat.
”Sudah lama masyarakat menunggu pembukaan ini. Di satu desa ratusan orang menunggu untuk bisa bekerja ke Malaysia,” ungkapnya.
Rusni mengatakan, masyarakat memang sangat membutuhkan lapangan kerja di Malaysia.
Mengingat lapangan kerja yang ada di Indonesia sangat terbatas. Apalagi dengan sistem zero cost, masyarakat menurutnya sangat antusias.
Rahman, salah satu Calon PMI asal Gerung, Lombok Barat yang ditemui Lombok Post usai proses seleksi mengaku memilih bekerja di Malaysia karena gaji yang ditawarkan sangat menjanjikan.
Dibanding dengan bekerja di Lombok, ia merasa gaji di perkebunan Malaysia bisa lebih baik.
”Ingin berjuang bekerja di Malaysia biar bisa hidup lebih sejahtera,” ujar pria yang sebelumnya menjadi satpam tersebut. (ton/r9)
Editor : Kimda Farida