LombokPost--Provinsi NTB berencana mengembangkan dan memproduksi tenun halal untuk industri fesyen syariah.
Desa Maringkik, di Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu lokasi tenun halal ini bakal diproduksi.
Desa Maringkik merupakan sebuah pulau kecil, yang dikenal berkat inovasi industri tenun lokal berupa tenun halal yang pertama di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut rencana pengembangan tenun halal di NTB, Dinas Perindustrian NTB mengunjungi IKM Bunga Maringkik di sana, Rabu (16/10).
”Kunjungan kami ke sana untuk melihat langsung perkembangan soal ini,” ujar Kepala Disperin NTB Hj Nuryanti, Kamis (17/10).
Dikatakannya, tenun halal ini merujuk pada proses pembuatan kain tenun yang memenuhi standar kehalalan.
Mulai dari benang yang digunakan, pewarna alami, hingga kondisi produksi yang steril dan bebas dari bahan non-halal.
”Disebut tenun halal karena semua tahapannya memenuhi syariat, mulai dari bahan hingga proses produksinya,” sambungnya.
IKM yang menghasilkan produk tenun halal, akan mendapat label halal/steril.
Hal itu sebagai pengakuan atas komitmen mereka dalam menjaga kesucian proses produksi produknya.
IKM Bunga Maringkik ini diketuai oleh Na’imah dengan 80 anggota.
Produk yang dihasilkan disebut dengan kain tenun ikat.
Disebut demikian lantaran motifnya dibuat dengan cara diikat, untuk membentuk motif tertentu.
Motif tersebut kemudian diberi warna.
Kain tenun Maringkik mempunyai beberapa motif kain, di antaranya motif sepak, motif kotak, dan motif kembangan.
Perempuan berhijab ini mengapreasi para perajin tenun lokal di Desa Maringkik.
Mereka dinilai telah berjasa dalam menjaga tradisi tenun sekaligus memajukan ekonomi kreatif desa.
”Kami akan terus mendukung melalui pelatihan dan akses pasar agar produk mereka semakin dikenal, bahkan hingga ke tingkat internasional,” terangnya.
Nuryanti juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan dukungan yang lebih konkret kepada para perajin.
Terutama dalam menghadapi tantangan seperti akses bahan baku dan inovasi desain.
Pulau Maringkik diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya. T
erutama dalam mengembangkan industri kreatif yang berbasis kearifan lokal.
”Dengan begitu akan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida