LombokPost-Efisiensi anggaran yang digaungkan pusat berdampak pada sektor pariwisata. Namun hal tersebut tidak begitu terasa di kawasan Gili Tramena (Trawangan, Meno, Air).
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran tidak begitu signifikan. Meski kebijakan tersebut sangat memengaruhi aktivitas pariwisata, terutama MICE yang berkaitan dengan event instansi pemerintah dan BUMN. ”Wisatawan di Tramena ini terdiri dari campuran wisatawan domestik dan asing. Namun, kegiatan seperti snorkeling trip juga terkena dampaknya,” ujarnya.
Kusnawan mencontohkan seperti perusahaan korporat atau BUMN. Mereka biasanya mengadakan kegiatan di Lombok dan menggunakan jasa hotel serta aktivitas snorkeling. Namun kini mengurangi atau bahkan meniadakan anggaran untuk kegiatan tersebut.
Meski demikian, ketua Indonesians Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB ini menegaskan, tiga gili sudah memiliki nama besar di kalangan wisatawan. ”Tidak sedikit kementerian yang berkunjung atau melakukan kegiatan di tiga gili. Namun, jika dibandingkan dengan Mataram atau Lombok Barat, dampaknya di Lombok Utara, khususnya Tramena relatif kecil,” jelasnya.
Soal isu kemungkinan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat kebijakan ini, Kusnawan mengatakan hal tersebut tidak akan terjadi. Okupansi hotel di tiga gili pada bulan ini mencapai 50 persen meski low season, dengan rata-rata kunjungan wisatawan sekitar 1.000 hingga 1.500 orang per hari. ”Kondisi ini menunjukkan bahwa tiga gili masih menjadi destinasi favorit bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tambahnya.
Kusnawan optimis industri pariwisata di tiga gili akan tetap bertahan meski pun ada tantangan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Ia berharap agar pemerintah daerah dan pusat dapat terus mendukung sektor pariwisata. “Terutama di destinasi wisata unggulan seperti tiga gili, untuk memastikan kelangsungan usaha dan kesejahteraan masyarakat setempat,” tandasnya.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, semua sektor terdampak efisiensi anggaran. Namun tidak boleh dilupakan jika efisiensi anggaran ini juga untuk kebutuhan lainnya. “Termasuk pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Dirinya membenarkan jika efisiensi perjalanan dinas sangat dirasakan pelaku bisnis perhotelan. Namun dirinya juga memperkirakan ke depannya masih akan ada lagi penambahan-penambahan dari efisiensi yang digunakan untuk kebutuhan lain. “Yang kita andalkan sekarang wisata MICE, ini disetop. Makanya bagaimana caranya nanti dari pihak hotel, agen-agen itu bisa mendatangkan wisman atau wisnus, jadi dengan ada event tidak hanya mengandalkan MICE,” pungkasnya. (fer/r6)
Editor : Redaksi Lombok Post