Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bi Perwakilan NTB Dorong Peningkatan Produksi Padi dengan Gamagora 7

nur cahaya • Selasa, 25 Maret 2025 | 17:20 WIB

 

Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb
Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb
 

LombokPost-Cuaca ekstrem kerap menjadi kendala yang cukup menyulitkan petani. Terkait persoalan ini, Bank Indonesia (BI) NTB memberikan solusi upaya jangka panjang melalui pengembangan padi varietas Gamagora 7 melalui good agriculture practice.

Varietas ini dikenal lebih adaptif terhadap perubahan iklim dengan hasil produksi yang maksimal. “Varietas ini merupakan kerja sama BI NTB dengan Universitas Gadjah Mada, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi yang adaptif terhadap perubahan iklim,” ujar Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap.

Gamagora 7 ini telah melalui tahap uji multilokasi di delapan lokasi lahan sawah dan enam lokasi tadah hujan. Kondisinya yang adaptif terhadap iklim membuat varietas ini dikenal dengan istilah padi amphibi yang berdaya hasil tinggi.

Ketahanan Gamagora 7 terhadap perubahan iklim diyakini akan cocok untuk dikembangkan di NTB. Perakitan varietas ini menggunakan induk varietas Rajalele asal Klaten. Sehingga mutu fisik beras dan mutu organoleptik (rasa dan aroma) cenderung lebih baik.

Dari segi produktivitas, Gamagora 7 berpotensi untuk produksi hingga 9,80 ton per hektare, dengan rata-rata produksi 7,95 ton per hektare. Hasil demplot Gamagora 7 berdasarkan hasil ubinan Dinas Pertanian Lombok Tengah, diperoleh gabah kering 10,3 ton per hektare. ”Jumlah tersebut dua kali lipat dari angka produksi varietas lainnya yang tercatat hanya mampu menghasilkan 5-6 ton per hektare,” sambungnya.

Kelebihan lainnya, varietas ini tahan terhadap serangan hama wereng batang coklat biotipe 2, hawar daun bakteri patotipe 3, dan penyakit blast ras. Selain itu, umur panennya  lebih pendek dibanding varietas lainnya. “Yaitu kurang dari 104 hari, sehingga dapat menambah siklus tanaman, dan adaptif terhadap perubahan iklim,” terangnya.

Gamagora 7 juga memiliki recovery rate yang tinggi. Hal itu memungkinkan untuk padi tumbuh kembali walau pun kurang air. “Gamagora 7 sudah mulai dikembangkan hingga ke Pulau Sumbawa,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Taufieq Hidayat mengatakan, ada 5.000 hektare sawah yang gagal tanam dan panen akibat cuaca ekstrem. Namun hal tersebut dinilai masih normal lantaran tingkat kegagalan tersebut hanya 2-3 persen. “Itu biasa terjadi NTB setiap tahunnya,” ujarnya.

Meski begitu, produksi padi petani NTB saat ini justru meningkat. Peningkatan tersebut terjadi lantaran luas tanam yang bertambah. Luas tanam NTB tahun ini lebih dari 290 ribu hektare, dengan luas panen berkisar antara 281 ribu hingga 287 ribu hektare. (fer/r6)

Editor : Rury Anjas Andita
#sawah #hektare #BI #Petani #Gamagora #Beras #aroma #NTB