LombokPost-Desa Banyumulek merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah di Lombok, NTB. Sejak 1990-an, 80 persen masyarakatnya berprofesi sebagai perajin gerabah. Produknya beragam, mulai dari vas, kap lampu, hiasan dinding, dan banyak lagi.
Semua produk-produk tersebut dibuat dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Menggunakan teknik tradisional yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Di tengah perkembangan zaman yang pesat, perajin gerabah mencoba untuk tetap bertahan. Mereka tidak lagi hanya menciptakan gerabah tradisional, tapi berinovasi dengan menyesuaikan selera pasar. “Kita mulai menyesuaikan dengan selera pasar, tidak lagi yang tradisional saja,” ujar perajin gerabah Banyumulek, Saufi.
Dirinya mencontohkan seperti gerabah mainan anak. Gerabah ini dibuat dengan meniru beragam tokoh kartun anak-anak. Seperti Hello Kitty, Doraemon, Kungfu Panda, dan banyak lagi. Gerabah mainan ini, kata Saufi ternyata cukup banyak peminatnya. “Dikirim ke Bali, Sumbawa, sampai Bima,” sambungnya.
Salah satu gerabah autentik yang paling laris adalah kendi maling. Kendi maling merupakan teko dari tanah liat yang cara pengisiannya terbalik. “Kendi maling namanya karena cara pengisiannya unik dari bawah, seperti maling yang masuk dari belakang bukan lewat pintu depan,” jelasnya.
Soal harga jual gerabah, kata dia beragam tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. Ada yang seharga Rp 10 ribu, Rp 150 ribu, hingga Rp 900 ribuan. Gerabah yang dihasilkan tersebut masih dikirimkan ke Selandia baru dan beberapa negara di Eropa.
Namun pasar gerabah saat ini tidak begitu ramai seperti dulu. Salah satu kendala yang dihadapi adalah mulai banyaknya perajin gerabah yang beralih profesi. Sebab itu, pihaknya berharap pemerintah lebih melirik industri kerajinan gerabah tradisional yang ada di Desa Banyumulek. “Supaya maju dan berkembang, serta lebih banyak lagi diketahui dan diminati banyak konsumen,” harapnya.
“Sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat bisa berkembang,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Redaksi Lombok Post