Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

ini Dia Kain Tenun Pinalo, Tenun Unik Lombok dari Serat Nanas

nur cahaya • Minggu, 30 Maret 2025 | 12:15 WIB

 

KENALKAN PRODUK: Owner Tenun Pinalo Aisyah Odis saat memperkenalkan produk tenunnya pada wisatawan asing dalam kegiatan Trade Expo Indonesia 2024 lalu.
KENALKAN PRODUK: Owner Tenun Pinalo Aisyah Odis saat memperkenalkan produk tenunnya pada wisatawan asing dalam kegiatan Trade Expo Indonesia 2024 lalu.

 

 

LombokPost-Provinsi NTB memiliki berbagai produk tenun yang unik dan menarik. Mulai dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, terdapat beragam tenun dengan berbagai motif yang kualitas tinggi.

Kali ini, produk tenun dari Desa Sukarara Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Namanya tenun Pinalo, singkatan dari Pinnapple of Lombok. Dinamakan demikian lantaran keunikannya, yakni dibuat dari benang yang terbuat dari serat buah nanas.

Tenun Pinalo dikembangkan pemiliknya, Aisyah Odis,  sekitar 4 tahun lalu. Pada saat itu, pandemi Covid-19 sedang merebak, namun Pinalo bisa diterima dengan baik oleh konsumennya. Hal ini lantaran tenun Pinalo ini terbuat dari bahan baku alami, dari benang hingga pewarnanya.

“Benang tenun Pinalo berbeda dari tenun lainnya, di sana letak keunikannya,” ujarnya.

Kain tenun pada umumnya menggunakan benang dari kapas. Sedangkan Pinalo menggunakan benang yang terbuat dari serat nanas. Tepatnya, dari limbah daun buah nanas. Semua berawal dari kekhawatirannya pada banyaknya sampah nanas yang tidak tertangani baik.

“Terutama di Lombok Timur, makanya sebagian besar sampah nanas yang diolah itukami datangkan dari sana,” beber perempuan yang juga aktivis lingkungan ini.

Pada awalnya, Aisyah mempekerjakan tiga penenun. Berbekal pengalamanan ditambah pengetahuan yang diperoleh dari internet, serat daun nanas akhirnya berhasil diolah menjadi benang. Kemudian diberi warna juga dengan menggunakan bahan-bahan alami.

“Tidak ada bahan kimia yang digunakan. Semua menggunakan bahan alami,” terangnya.

Eksistensi tenun Pinalo pun semakin luas. Tenun tersebut kini sudah bisa merambah pasar internasional berkat keunikan yang ada di dalamnya. Tenun Pinalo tidak hanya diburu konsumen dalam negeri, tetapi juga buyer luar negeri.

“Belanda, Prancis, Jepang hingga Australia,” bebernya.

Selain bahan, buyer luar negeri tertarik akan tenun ini lantaran proses pembuatannya yang juga alami. Apalagi buyer luar negeri sangat sadar akan isu-isu lingkungan. Tenun Pinalo akan sangat mudah menarik perhatian mereka.

Soal harga, Aisyah mengatakan, tidak jauh berbeda dengan tenun Sukarara pada umumnya. Yakni di kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu untuk satu produk tenunnya, tergantung ukuran serta motifnya.

Berkat eksistensi yang semakin luas, omzet penjualan tenun Pinalo dari tahun ke tahun terus meningkat. Yakni dengan rata-rata mencapai Rp 570 juta per tahun.

Untuk pola pemasarannya, dilakukan secara online dan offline. Bahkan, konsumen dapat memesan untuk motif serta ukurannya.

 “Sekarang sudah sekitar 10 penenun yang diperkerjakan untuk menghasilkan tenun Pinalo ini,” sebut Aisyah.

Ia pun berharap tenun Pinalo bisa semakin banyak peminatnya, sehingga lambat laun produknya juga bisa semakin banyak dan semakin banyak pula penenun yang terlihat. Pada akhirnya bisa memberikan manfaat secara ekonomi bagi penun dan masyarakat Desa Sukarara. (fer)

Editor : Redaksi Lombok Post
#pengetahuan #kapas #Ekonomi #sukarara #tenun #Perempuan