LombokPost-Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mematok bea impor 32 persen untuk produk-produk dari Indonesia membuat eksportir NTB resah. Hal tersebut dinilai semakin mempersulit para eksportir NTB menjangkau pasar Negeri Paman Sam tersebut.
Eksportir kemiri NTB Mujnah mengatakan, kebijakan itu dapat berpengaruh pada penurunan nilai aset tetap secara bertahap atau depresiasi. Produk yang akan masuk ke Amerika akan semakin sulit setelah keluarnya kebijakan tersebut.
Hal tersebut tentu saja dinilai meresahkan lantaran bisa menghambat pelaku UMKM memperluas pasar ekspor mereka. ”Sejujurnya, kami cukup terganggu dengan adanya kebijakan Trump ini, bagi UMKM yang melakukan ekspor ke Amerika Serikat,” ujar Mujnah.
Presiden Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif impor terbaru yang dinamai Liberation Day atau Hari Pembebasan. Kebijakan tersebut sudah mulai diterapkan secara efektif pekan lalu. Kebijakan tersebut memberlakukan tarif dasar sebesar 10 persen untuk seluruh produk impor ke AS.
Tambahan tarif lebih tinggi dikenakan pada negara-negara tertentu yang dinilai melakukan praktik perdagangan merugikan AS. Di antaranya, China sebesar 34 persen, Uni Eropa 20 persen, dan Indonesia 32 persen. ”Bagi kami yang pemula dalam kegiatan ekspor tentu akan terdampak, khususnya dari segi biaya dan daya saing,” sambung perempuan berhijab ini.
Mujnah melanjutkan, pihaknya memang belum pernah melakukan ekspor ke AS. Namun pihaknya sudah melirik potensi ekspor ke negara tersebut. Adanya kebijakan bea impor AS tersebut tentunya membuat Mujnah perlu berpikir kembali mengekspor ke negara tersebut. “Kebijakan Trump ini bisa membuat depresiasi dan Rupiah akan melemah. Sementara, kami yang pemula butuh di back up,” terang Mujnah.
Untuk saat ini, Mujnah baru mengirim kemiri ke sejumlah negara seperti Arab Saudi hingga Jepang. Ia juga sudah menerima permintaan kemiri dari Hongkong dan Selandia Baru.
Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, cukup sulit mengukur dampak kebijakan Trump terhadap komoditas ekspor NTB. Sebab harus membandingkannya dengan tarif impor negara lain yang juga melakukan ekspor ke AS. “Jika tarif impor dari Indonesia lebih tinggi, tentu akan menurunkan daya saing harga,” ujarnya.
“Sepertinya semua negara kena tarif impor yang tinggi. Menurut saya, CPO yang paling menderita, karena AS produksi minyak nabati substitusi seperti minyak kedelai dan jagung,” pungkasnya. (fer/r6)
Editor : Prihadi Zoldic