Berawal dari pengalaman pribadi Imam yang mendapati teman-temannya yang ingin minum kopi tapi enggan mengunjungi kafe mahal.
Tercetuslah gagasan untuk mendirikan sebuah lapak sederhana yang diberi nama Kupi Pelinggih.
"Kalau lapak seperti ini, rata-rata teman seusia saya (22 tahun) tidak merasa enggan atau segan," ujar Imam.
Filosofi ini menjadi landasan utama mereka, menciptakan ruang nongkrong santai tanpa pretensi, ala lesehan di pinggir jalan.
Kupi Pelinggih kini menjadi destinasi baru bagi para penikmat kopi di Lombok Utara.
Berlokasi strategis di pinggir jalan baru Tanjung, dekat kantor PDAM Lombok Utara.
Berdampingan langsung dengan hamparan sawah Desa Jenggala, Kupi Pelinggih menawarkan suasana alami yang menenangkan.
"Namanya Kupi Pelinggih, dan lokasi kami di jalan Tanjung dekat Kantor PDAM yang langsung berdampingan dengan sawah," sambung Rifan.
Beroperasi mulai pukul 17.30 sore hingga tengah malam, Kupi Pelinggih menjadi alternatif bagi mereka yang mencari nuansa berbeda saat menikmati kopi.
Duo mahasiswa jurusan PAI Kampus Nurul Hakim Kediri ini berhasil memperkenalkan kopi lokal Lombok Utara kepada masyarakat luas.
Harganya sangat terjangkau, mulai dari Rp 4.000 hingga Rp 8.000 saja.
Dalam sehari, Kupi Pelinggih mampu menjual 80 hingga 150 gelas kopi.
Berbagai jenis kopi lokal Lombok Utara seperti Kopi Rempek dan Samba, serta produk UMKM kopi lainnya, juga tersedia.
“Ada juga alternatif kopi sachet,” katanya.
Kupi Pelinggih ini baru beroperasi sekitar tiga minggu.
Namun omzet yang menjanjikan membuat Imam dan Rifan optimis.
“Rencananya mau beli alat produksi lainnya supaya bisa terus menghadirkan pengalaman ngopi terbaik bagi pelanggan,” tandasnya.***
Editor : Redaksi Lombok Post