Salah satunya, melakukan upaya perluasan pasar ekspor ke Hongkong dan Australia.
Kepala Kantor Perwakilan BI NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, saat ini ekspor non tambang NTB masih relatif kecil.
Tercatat hanya menyumbang 2 persen dari total ekspor NTB. Sisa 98 persennya masih disumbang sektor tambang.
Meski begitu, BI NTB terus berupaya mendorong peningkatan share komoditas non tambang.
Sebab dampaknya terhadap perekonomian masyarakat dinilai sangat signifikan.
Salah satu strategi yang dijalankan adalah memperluas akses pasar dan meningkatkan kualitas produksi.
“Ini akan terus kita coba untuk tingkatkan non-tambangnya karena dampaknya yang sangat baik ke masyarakat,” ujarnya.
Berry menjelaskan, ada sejumlah komoditas unggulan dan hasil pertanian lainnya tengah digalakkan agar dapat menembus pasar internasional.
Di antaranya kemiri, vanili organik, home dekor, hingga furniture.
“Ini yang terus kita dorong, termasuk memperluas pasar. Kemiri misalnya, kita lihat masih ada peluang untuk pasar Hongkong dan Australia,” sambungnya.
Berbeda dengan sektor tambang, sektor non-tambang dianggap lebih berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lapisan bawah.
Misalnya, komoditas seperti kemiri dan kelapa melibatkan petani di sekitar hutan dan pesisir.
“Manfaatnya terasa langsung ke masyarakat. Ketika permintaan kemiri dan vanili meningkat, pendapatan petani pun ikut naik. Ini bisa berdampak pada penurunan kemiskinan, penurunan angka stunting, dan peningkatan pendidikan,” jelasnya.
Untuk mempercepat penetrasi pasar global, BI NTB juga menjajaki kerja sama dengan brand internasional seperti IKEA.
Diharapkan produk-produk home decor dan kerajinan tangan lokal, bisa masuk ke jaringan distribusi IKEA yang tersebar di berbagai belahan dunia.
“Mudah-mudahan kerja sama ini bisa mempercepat permintaan terutama produk seperti dekorasi rumah dan kerajinan lainnya. Ini upaya jangka panjang yang akan kita bangun dengan keberlanjutan,” terangnya.
Lebih lanjut dijelaskan Berry, pihaknya juga mengedepankan praktik pertanian berkelanjutan.
Yakni dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) pada komoditas unggulan seperti vanili, kemiri, padi, dan cabai.
Penanaman kembali kemiri di lahan-lahan marginal di Lombok dan Sumbawa juga menjadi bagian dari upaya konservasi sekaligus ekonomi.
“Teknik-teknik terbaik dari pertanian itu akan kita terus berluaskan. Vanili, kemiri, padi, cabai itu semua kita coba,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Liputan Berita Lombok Post