LombokPost - Angka pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II-2025 tercatat minus 0,25 persen (yoy).
Sekilas memang mengecewakan. Tapi di balik angka itu, arah baru pembangunan NTB justru sedang terbentuk: dari ketergantungan pada sektor tambang menuju kekuatan baru berbasis pariwisata berkualitas.
NTB kini masuk era transisi. Tidak lagi mengandalkan emas dan tembaga, melainkan destinasi-destinasi unggulan seperti Mandalika, Gili, Rinjani, dan Teluk Saleh.
Transformasi ini sudah ditandai sejak awal masa jabatan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal yang mengusung visi NTB Makmur Mendunia.
"Ini bukan sekadar slogan. Tapi perubahan arah ekonomi yang menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia, layanan publik, dan nilai tambah ekonomi dari sektor pariwisata," ungkap Taufan Rahmadi, Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata, Selasa (6/8).
Pariwisata berkualitas kini menjadi lokomotif baru. Data World Bank 2023 menunjukkan sektor pariwisata menyumbang lebih dari 10% PDB dunia dan membuka 1 dari 10 lapangan kerja.
Indonesia sendiri, kata laporan WTTC 2025, memproyeksikan kontribusi sektor pariwisata hingga Rp1.269,8 triliun atau sekitar 5,5% dari total PDB.
NTB pun sudah membuktikan langkah transformasi ini bukan sekadar wacana. Suksesnya penyelenggaraan FORNAS VIII menjadi bukti.
Event tersebut menyedot puluhan ribu pengunjung dan kontingen dari seluruh Indonesia, serta menggerakkan hotel, kuliner, transportasi lokal, hingga UMKM.
"Okupansi hotel melonjak di atas 70 persen. Perputaran uang mencapai ratusan miliar rupiah. UMKM lokal pun kebanjiran omzet," kata Taufan.
"Ini multiplier effect nyata dari transformasi ekonomi berbasis event dan wisata," imbuhnya.
Ditambah lagi, event global seperti MotoGP Mandalika dan festival budaya Bau Nyale terus mengukuhkan NTB sebagai destinasi wisata olahraga dan budaya kelas dunia.
NTB tidak hanya menjual alam, tapi kini juga menjadi rumah bagi ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Memang, dampak dari peralihan ini adalah kontraksi ekonomi jangka pendek, apalagi sektor tambang sempat menjadi tulang punggung NTB selama dua dekade terakhir.
Namun, kata Taufan, ini adalah konsekuensi logis dari upaya membongkar ketergantungan lama.
"Minus 0,25 persen bukan kemunduran. Ini seperti menggali fondasi lebih dalam sebelum membangun lebih tinggi," tegasnya.
Ke depan, arah baru ini perlu ditopang oleh sinergi banyak pihak. Mulai dari perbaikan konektivitas antarmoda, iklim investasi, hingga sinergi dengan pemerintah pusat.
Taufan yakin, dengan konsistensi, NTB bisa menjadi role model pembangunan ekonomi baru di Indonesia.
"Arah kompas pembangunan NTB sudah berubah. Dan dalam perubahan itu, harapan baru sedang tumbuh," pungkasnya. (***)
Editor : Alfian Yusni