Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cold Storage Minim, Hilirisasi Perikanan NTB Tertatih

Geumerie Ayu • Selasa, 2 September 2025 | 08:32 WIB

Salah satu pembudi daya udang vaname yang tengah melakukan panen di kolam miliknya, beberapa waktu lalu.
Salah satu pembudi daya udang vaname yang tengah melakukan panen di kolam miliknya, beberapa waktu lalu.
LombokPost - NTB terus mendorong hilirisasi berbagai sektor unggulan daerah, mulai dari perikanan, pertanian hingga pertambangan.

Langkah ini diyakini menjadi kunci agar NTB bisa mandiri secara fiskal, tanpa terus bergantung pada dana transfer pusat.

Meski begitu, jalan menuju hilirisasi tak sepenuhnya mulus.

Tantangan besar masih menanti, terutama pada aspek infrastruktur pengolahan dan logistik.

Kepala Dinas Kelautan dan perikanan NTB Muslim mengatakan, hingga kini ketersediaan cold storage, fasilitas pengemasan, hingga jalur distribusi yang efisien masih terbatas.

Akibatnya, produk unggulan NTB sering kali dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah.

Selain persoalan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi catatan penting.

Hilirisasi membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan siap pakai. Mulai dari teknisi pengolahan, manajer rantai pasok, hingga tenaga pemasaran digital.

Tanpa dukungan SDM yang mumpuni, hilirisasi bisa berjalan pincang.

Muslim menegaskan, hilirisasi merupakan jalan wajib jika daerah ingin maju dan berdaulat secara ekonomi.

“Kita tidak bisa terus bergantung pada pusat,” ujarnya, Jumat (29/8).

Dikatakannya, ada lima komoditas kelautan dan perikanan yang menjadi prioritas hilirisasi.

Di antaranya, tuna, cakalang, rumput laut, udang vaname, dan garam. Beberapa komoditas sudah mulai masuk tahap pengolahan.

“Misalnya tuna dan garam, namun masih terbatas skala industri,” sambungnya.

Potensi terbesar disebut berasal dari produksi udang vaname yang mencapai lebih dari 197 ribu ton per tahun.

Selama ini, hasil budi daya lebih banyak dikirim ke luar daerah seperti Surabaya, untuk diproses sebelum kembali ke pasar.

“Ke depan, pengolahan harus dilakukan di NTB. Kami sudah siapkan regulasi dalam perda untuk mendorong keterlibatan pihak swasta, termasuk penyediaan lahan, perizinan, dan pembangunan cold storage,” jelas Muslim.

Dukungan regulasi juga mulai digarap.

Sejumlah program penguatan kelembagaan, fasilitasi peralatan, hingga akses pembiayaan sedang dipacu.

Harapannya, produk unggulan NTB tak lagi hanya dikenal sebagai komoditas mentah.

“Kuncinya ada pada komitmen dan keberlanjutan,” tegasnya.

Ke depan, hilirisasi diharapkan tidak hanya mengangkat nilai tambah produk, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat kemandirian fiskal daerah.

Editor : Siti Aeny Maryam
#perikanan #cold storage #NTB #hilirisasi