Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pariwisata NTB Mulai Rasakan Dampak Demo Anarkis, Pembatalan Perjalanan Bermunculan

Geumerie Ayu • Jumat, 5 September 2025 | 19:08 WIB
Suasana salah satu sudut hotel di Gili Trawangan, Lombok Utara, beberapa waktu lalu.
Suasana salah satu sudut hotel di Gili Trawangan, Lombok Utara, beberapa waktu lalu.

LombokPost – Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Astindo) NTB Sahlan M Saleh menyampaikan sejumlah pembatalan kunjungan bermunculan.

Hal itu diprediksi berkaitan dengan situasi keamanan sepekan terakhir.

Menariknya malah wisatawan domestik yang banyak tercatat membatalkan kunjungan.

“Ada beberapa reservasi sudah dibatalkan, karena melihat situasi seperti ini. Dari perusahaan saya harusnya hari ini datang, malah tidak jadi. Kebetulan yang datang tamu VIP semua,” ujar Sahlan.

Sedangkan pembatalan dari wisatawan mancanegara tidak terlalu signifikan.

Turis dari negara yang mengeluarkan travel warning seperti Malaysia, Singapura, Prancis, Jepang, Inggris, dan Kanada tetap datang.

Mereka hanya melakukan konfirmasi ulang untuk memastikan NTB aman.

"Dari luar negeri mereka tetap datang, tapi semua wisatawan yang datang konfirmasi kembali dengan situasi kami di sini. Apakah ketika mereka datang, apakah akan aman, itu pertanyaannya,” terangnya.

Meski situasi ini mengganggu, langkah memajukan pariwisata NTB tetap berjalan.

Astindo NTB sudah menjadwalkan promosi ke Korea 7-9 September dan ke Beijing, China 9-12 September.

Promosi ini menjadi momentum untuk meyakinkan dunia bahwa NTB tetap kondusif dan siap menyambut wisatawan.

Pada sektor perhotelan, Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) I Made Adiyasa Kurniawan mengungkapkan kekecewaannya.

Tren positif yang sempat diraih Agustus lalu, kini terancam.

"Pemesanan yang batal ini adalah bookingan yang seharusnya datang pada minggu pertama September ini. Kebanyakan tamu kita memang pasarnya domestik, terutama dari Pulau Jawa,” kata Adiyasa.

Okupansi atau angka keterisian hotel di Mataram sempat melonjak dari 30 persen di awal Agustus hingga mencapai 60 persen di pertengahan bulan.

Namun, memasuki September, angka itu langsung anjlok drastis ke level 20-35 persen.

“Khususnya untuk pemesanan kamar saat akhir pekan kemarin juga langsung turun drastis,” tambahnya.

Meski pun banyak wisatawan yang hanya menjadwal ulang, bukan membatalkan permanen, dampak finansial tetap terasa.

Penundaan ini menghambat perputaran uang di sektor pariwisata.

Adiyasa berharap kondisi ini tidak berlarut-larut.

Apalagi dengan akan digelarnya event besar MotoGP bulan depan yang diharapkan dapat menjadi momentum emas.

Dia sepakat stabilitas dan keamanan adalah kunci utama.

Harapannya masyarakat tetap beraktivitas normal dan tidak terpengaruh oleh isu yang bisa merusak.

"Ketenangan dan stabilitas adalah kunci utama,” pungkasnya.

Editor : Pujo Nugroho
#dampak #demo anarkis #Pariwisata NTB #astindo #pembatalan