Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Imbas Penerapan HET Baru, Distributor Beras Premium Lokal Tarik Produk dari Ritel Modern

Geumerie Ayu • Minggu, 14 September 2025 | 05:53 WIB

Imbas penerapan het baru, distributor beras premium lokal tarik produk dari ritel modern.
Imbas penerapan het baru, distributor beras premium lokal tarik produk dari ritel modern.
LombokPost – Kelangkaan beras premium kini sedang terjadi di ritel modern besar maupun kecil di Kota Mataram.

Kelangkaan ini kabarnya lantaran banyak pengusaha beras lokal yang menarik produk mereka dari ritel-ritel modern.

Salah satu distributor beras di Mataram Muhammad Syauki mengatakan, hampir semua merek beras premium kini memang sulit diperoleh.

Penyebab utamanya, karena kebijakan pemerintah terkait harga eceran tertinggi (HET) beras premium.

Kebijakan itu dinilai merugikan pengusaha beras premium lokal.

“Beras premium HET Rp 14.900 per kilogram, sedangkan dari penggilingan sudah di atas Rp 15.000, pengusaha beras lokal pasti tidak mau merugi,” jelas Syauki.

Kondisi ini membuat produsen enggan menggiling gabah.

Bahkan, akibat perbedaan harga itu, banyak penggilingan memutuskan berhenti dulu menggiling beras.

Mereka lebih memilih mengurangi produksi untuk menghindari kerugian.

“Beras premium ukuran 5 kilogram sekarang sulit ditemukan karena distributor-distributor tertekan dengan harga yang harus disesuaikan dengan HET,” sambungnya.

Harga beli oleh pedagang untuk beras premium 25 kilogram saat ini sudah menembus Rp 14.500 hingga Rp 14.700 per kilogramnya.

Sedangkan HET untuk mereka jual lagi masih ditetapkan Rp 14.900 per kilogram.

Hal ini berimbas pada stok di tingkat distributor yang semakin menipis.

Pasokan yang biasanya tersedia harian kini hanya bisa dipenuhi dua minggu sekali.

“Permintaan bisa 8-10 ton per hari, tapi pasokan hanya ada dua minggu sekali,” tandasnya. 

Manager Operasional MGM Cakranegara Hafizul Hasbi menerangkan kebijakan HET beras premium ini justru mengganggu pengusaha beras lokal di Pulau Lombok.

Sebab setelah dilakukan perhitungan dengan harga tersebut, justru berpotensi merugi.

“Kalau toko atau retail menjual Rp 14.900. Kalau distributor menjual di supermarket atau retail pasti di bawah harga itu,” terangnya.

Sebab itu, distributor beras lokal memilih menarik beras mereka di sejumlah retail modern.

Mereka tidak mau merugi karena penetapan HET tersebut. Sebab itu, rak-rak beras premium di ritel kosong.

Kondisi ini mengakibatkan pelanggan mengeluh.

Hasbi mengharapkan pemerintah mencari solusi, agar kondisi ini tidak terjadi berkepanjangan.

Retail dipastikan tidak mau menjual barang apabila rugi.

“Kalau kami pasti berpikir ada selisih harga dari toko. Kita juga tidak mau rugi,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#ritel #langka #Pengusaha Beras #HET #Ritel Modern #Beras Lokal