Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rupiah Tertekan, BI Targetkan Nilai Tukar di Rp 16.600 - Rp 16.800 Lewat Operasi Pasar

Redaksi Lombok Post • Jumat, 26 September 2025 | 22:48 WIB

Penguatan rupiah ini sejalan dengan sentimen positif dari pasar global. (istimewa)
Penguatan rupiah ini sejalan dengan sentimen positif dari pasar global. (istimewa)
LombokPost -- Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan kecenderungan depresiasi yang lebih dalam dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg Market Spot Rate hingga pukul 15.05 kemarin (26/9), rupiah berada di level Rp 16.738 per USD, setelah sempat melemah 0,44% ke level Rp 16.750 per USD pada perdagangan Kamis (25/9). Sepanjang tahun ini, rupiah tercatat telah melemah 4,02%.

Bank Indonesia (BI) berupaya keras merespons perkembangan ini dan menargetkan untuk menjaga nilai tukar dalam rentang Rp 16.600 - Rp 16.800 per USD dalam sebulan ke depan.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen bank sentral untuk menggunakan seluruh instrumen yang tersedia, baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri.

"Maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat secara terus menerus, melalui intervensi NDF (non-deliverable forward),” kata Perry di Jakarta kemarin (26/9).

Intervensi di pasar domestik akan dilakukan melalui instrumen spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Perry juga mengajak seluruh pelaku pasar untuk bekerja sama menjaga iklim pasar keuangan yang kondusif demi tercapainya stabilitas nilai tukar.

 

Sorotan terhadap Kebijakan Moneter dan Suplai Rupiah

 

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai intervensi BI menggunakan cadangan devisa merupakan strategi paling ampuh untuk stabilisasi jangka pendek.

Namun, ia menyoroti kebijakan moneter BI yang dinilai terlalu agresif dalam pelonggaran suku bunga. Sejak September 2024, BI telah memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin (bps) menjadi 4,75%.

Kebijakan ini berbeda tajam dengan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang baru menurunkan suku bunga sebesar 25 bps dan diperkirakan hanya akan menurunkan dua kali lagi ke depan.

Perbedaan ini menyebabkan selisih (spread) antara Fed funds rate dan BI rate makin menyempit, yang berpotensi memicu tekanan tambahan terhadap nilai tukar dan inflasi. “Jadi ini yang mungkin akan berdampak kepada risiko nilai tukar dan inflasi,” tutur Rully.

Baca Juga: Riyadussolihin, Pembudidaya Ikan Nila dengan Sistem Bioflok Punya 13 Kolam, Sekali Panen Bisa Dapat Puluhan Juta Rupiah

Selain faktor kebijakan moneter, Rully juga menyebut adanya potensi peningkatan suplai rupiah di pasar.

Kementerian Keuangan yang telah menyuntikkan dana sebesar Rp 200 triliun ke sistem perbankan berisiko meningkatkan jumlah uang beredar secara signifikan.

"Saya rasa memang rupiah menjadi salah satu yang mengalami depresiasi paling dalam di beberapa hari terakhir," ujar Rully.(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Bank Indonesia #nilai tukar rupiah #bi rate