Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dukungan Fundamental Kuat, IHSG Berpotensi Sentuh Level 8.200 Pekan Ini

Redaksi Lombok Post • Minggu, 28 September 2025 | 22:51 WIB

TERUS BERGERAK: Karyawan memantau pergerakan harga saham di salah satu Sekuritaa di Jakarta, beberapa waktu lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan naik 34,8 poin (0,51 persen) ke level 6.864. Kapi
TERUS BERGERAK: Karyawan memantau pergerakan harga saham di salah satu Sekuritaa di Jakarta, beberapa waktu lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan naik 34,8 poin (0,51 persen) ke level 6.864. Kapi
LombokPost -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja positif, meskipun sempat dibayangi tekanan nilai tukar rupiah dan aksi profit taking investor asing. Pada pekan ini, IHSG diproyeksikan masih melanjutkan penguatan dan berpotensi menyentuh level 8.200.

MNC Sekuritas melihat peluang penguatan IHSG masih terbuka.

“Best case masih terdapat peluang penguatan bagi IHSG ke rentang 8.200–8.246. Namun, IHSG masih rawan terkoreksi paling tidak untuk menguji 7.894–7.959 dahulu,” tulis laporan tim riset.

Meskipun tekanan rupiah dan aliran dana asing berpotensi menahan laju penguatan, tim riset menilai dukungan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, ditambah minat investor pada saham-saham tertentu, dapat memberi ruang bagi indeks untuk kembali mencoba menembus level 8.200.


Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak pada kisaran level 7.980-8.170. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menyebutkan bahwa secara teknikal, meskipun indikator stochastic RSI telah mengalami death cross dan Histogram MACD mulai melemah, IHSG masih mampu bertahan di atas level MA5.

Pada pekan ini, investor akan mencermati sejumlah data domestik, seperti indeks manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, dan inflasi.

Sementara dari Amerika Serikat, pasar akan menantikan data manufaktur, sektor jasa, dan data pasar tenaga kerja seperti ADP Employment, nonfarm payrolls, dan tingkat pengangguran.

Data-data AS ini penting untuk menilai kesehatan ekonomi dan memproyeksikan prospek penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) berikutnya.


Sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil naik 0,6% dari level 8.051 menjadi 8.099,33 pada Jumat (26/9). Bahkan, indeks sempat memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Rabu (24/9) dengan ditutup di level 8.126.

Kinerja positif ini turut mendorong kenaikan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 1,74% menjadi Rp 14.888 triliun.

Dari sisi transaksi, terjadi lonjakan frekuensi dan volume. “Dari sisi transaksi, rata-rata frekuensi harian naik 15,56 persen menjadi 2,45 juta kali, sedangkan volume melonjak 12,08 persen menjadi 47,07 miliar lembar saham. Namun, rata-rata nilai transaksi harian sedikit tertekan sebesar 1,25 persen ke Rp 28,19 triliun,” papar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.

Editor : Redaksi Lombok Post
#ihsg #bursa saham