Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Madu Mellonia Trigona Asal NTB Tembus Pasar Singapura dan Dubai  

Geumerie Ayu • Senin, 13 Oktober 2025 | 09:38 WIB

Madu Mellonia Trigona asal NTB tembus pasar Singapura dan Dubai
Madu Mellonia Trigona asal NTB tembus pasar Singapura dan Dubai
LombokPost - Vivian Watania, Marketing Director PT Jawa Palma Abadi sekaligus eksportir sukses mengembangkan bisnis madu trigona dari NTB.

Bahkan produk madu trigona dengan brand Mellonia Artisanal Honey Trigona (selanjutnya Mellonia Trigona) ini sudah mampu menembus pasar luar negeri. 

“Saya tadinya lebih ke ekspor ikan, tapi di sini saya lihat potensi madu itu banyak banget, madu Sumbawa madu hutan” beber Vivian pada Lombok Post.

Dituturkan Vivian, semua bermula ketika dokter spesialis paru-paru menyarankan agar anaknya mengkonsumsi madu.

Semua madu telah dicoba hingga akhirnya berlabuh pada madu trigona.

Vivian menegaskan, madu trigona yang diproduksi oleh lebah kecil tanpa sengat ini memiliki kandungan unggul.

“Terutama anti-inflamasi dan sangat membantu pengobatan kanker,” jelasnya.

Madu tersebut membantu menstabilkan stamina kerabatnya yang sedang menjalani kemoterapi.

Juga mengurangi efek pusing (dizzy) dan meningkatkan selera makan.

Produk Mellonia Artisanal Honey Trigona dalam kemasan berkualitas.
Produk Mellonia Artisanal Honey Trigona dalam kemasan berkualitas.

“Biasanya kan orang habis kemo itu suka dizzy ya, cuman tiduran terus selera makan juga habis, tapi Alhamdulillah sekarang berangsur-angsur stabil. Madu trigona itu bagus juga untuk kanker, bukan mengobati tetapi membantu pengobatannya kanker,” jelasnya.

Mellonia Trigona memasarkan madu Trigona dengan keunikan rasa asam, kecut, dan pahit di awal, baru diikuti rasa manis di akhir.

Karakteristik rasa ini sepenuhnya bergantung pada nektar bunga di lokasi peternakan.

Keunikan inilah yang justru diminati pasar luar negeri.

“Kalau di Sekotong, rasanya lebih pahit karena nektar dari bunga mangrove. Kalau di KLU (Lombok Utara) lebih kecut karena dari pohon jambu monyet,” terang Vivian.

Tidak seperti madu ternak biasa, madu Trigona memiliki masa panen yang sangat terbatas.

Yakni hanya dua kali dalam setahun, atau enam bulan sekali, untuk mendapatkan kualitas terbaik.

Setiap stup (sarang kotak, Red) pun hanya menghasilkan sedikit, sekitar 300 hingga 450 mililiter.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Vivian menggandeng kurang lebih 15 kelompok peternak yang tersebar di beberapa wilayah NTB.

Mulai dari Sekotong, KLU, hingga Narmada.

“Mulai ekspornya September kemarin ke Singapura dan Dubai. Quantity-nya masih sedikit, tapi ini langkah awal,” katanya.

Kendala utama ada pada pasar lokal yang belum teredukasi.

“Tidak semua orang suka madu trigona karena rasanya yang asam dan kecut. Orang kebanyakan berpikir, ini pasti sudah ada campuran,” ujar Vivian.

Tantangan kedua yang paling menguras energi adalah proses perizinan.

Dia menghabiskan delapan bulan untuk mengurus legalitas, mulai dari sertifikasi Halal, Nomor Kontrol Veteriner (NKV), ISO, hingga standarisasi internasional.

Untuk harga Mellonia Trigona, kemasan 250 mililiter dibanderol Rp 350 ribu, dan kemasan to-go 45 mililiter seharga Rp 100 ribu.

Selain ekspor, madu Mellonia Trigona ini juga sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia.

 

 

Editor : Jelo Sangaji
#Madu Trigona #Mellonia Trigona #Singapura #ekspor #Mellonia Artisanal Honey Trigona #Dubai