Askari menciptakan sebuah produk menarik, kopi murni tanpa campuran. Dari sinilah, merek Asyraf Coffee lahir.
"Waktu itu saya bingung mau kasih oleh-oleh apa, akhirnya saya carikan kopi, ternyata kopi yang saya beli waktu itu masih ada campurannya," tuturnya.
Kopi yang ia temui di pasaran Lombok saat itu masih umum dicampur dengan bahan lainnya, seperti beras.
Namun, Askari membayangkan sesuatu yang berbeda. Ia memutuskan untuk memproduksi kopi tanpa campuran.
"Dari situlah saya membayangkan bagaimana ya jika kopi ini tidak ada campuran," sambungnya.
Didorong visi untuk menyajikan kopi Lombok yang sesungguhnya, Askari meluncurkan Asyraf Coffee.
Pada masa perintisan, produksi kopi dilakukan secara tradisional. Biji kopi disangrai di atas wajan dalam durasi waktu tertentu.
Namun, seiring meningkatnya minat dan permintaan konsumen, metode ini menjadi tidak lagi efisien.
"Karena waktu itu banyak permintaan, saya tak sanggup kalau harus menggunakan cara tradisional akhirnya saya coba dengan metode roastery dan ternyata hasilnya maksimal," jelas perempuan berhijab ini.
Keputusan beralih ke metode roastery profesional terbukti krusial. Peralihan ini mampu menjamin kualitas kopi yang lebih stabil dengan aroma yang jauh lebih kaya.
Sekaligus memastikan setiap tegukan Asyraf Coffee menyuguhkan pengalaman murni kopi Lombok yang sesungguhnya.
Askari selalu berpegang teguh pada satu prinsip utama, yakni kejujuran dalam menjual produk.
Baginya, kepercayaan konsumen adalah modal tak ternilai.
Prioritas ini diwujudkan Askari melalui keterbukaan dan kesediaan menerima masukan dari konsumen untuk terus meningkatkan kualitas produk.
Pendekatan yang berorientasi pada pelanggan ini telah membantu Asyraf Coffee membangun fondasi loyalitas yang kuat.
“Kami terbuka menerima kritik dan saran untuk meningkatkan kualitas produk,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam