Para pihak berkolaborasi melakukan sampling BBM di sejumlah SPBU, termasuk di kawasan destinasi super prioritas Mandalika.
Ketua Hiswana Migas NTB Reza Nurdin menjelaskan, sampling dilakukan Jumat (12/12) pekan lalu.
Bertujuan memastikan setiap tetes BBM yang disalurkan memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang ditetapkan. "Ini penting dilakukan," ujar Reza.
Bersama Anggota Komite BPH Migas dan Pertamina Sales Area Retail NTB, tim ini mengambil sampel langsung dari nozzle SPBU.
Sampel tersebut segera diuji untuk menjamin tidak terjadi pencampuran, pengurangan oktan, atau penyimpangan takaran lainnya.
"Masyarakat harus menerima produk yang tepat kualitas dan tepat takaran," tegas Reza.
Selain kualitas produk, tim gabungan juga memeriksa kesiapan sarana operasional SPBU.
Mulai dari alat ukur hingga kesiapan stok di jalur-jalur padat. Mandalika, salah satu magnet pariwisata NTB, menjadi fokus utama pengecekan pasokan.
"hasil pengecekan hari ini, stok BBM di SPBU Mandalika berada dalam kondisi aman," jelasnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) telah memproyeksikan peningkatan kebutuhan energi yang signifikan.
Satgas Nataru Jatimbalinus telah diaktifkan sejak 13 November 2025 hingga 11 Januari 2026.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi, menyebut puncak lonjakan mobilitas diprediksi terjadi 24-25 Desember 2025, 31 Desember-1 Januari 2026, serta arus balik 2-4 Januari 2026.
Kebutuhan BBM gasoline (bensin) diperkirakan naik 8,4 persen dari rata-rata normal (19.580 KL/hari), seiring meningkatnya perjalanan masyarakat.
BBM gasoil (solar) diprediksi turun 5,1 persen karena berkurangnya aktivitas industri selama liburan.
Kemudian gas Elpiji untuk rumah tangga naik 3,4 persen. Sedangkan avtur (bahan bakar pesawat) untuk 13 bandara di Jatimbalinus juga diperkirakan naik 2,4 persen.
"Kami memastikan pasokan dan distribusi energi tetap terjaga sepanjang periode Nataru," tutur Ahad.
Editor : Jelo Sangaji