Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog NTB Mara Kamin Siregar mengatakan, langkah ini merupakan instruksi pusat guna meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi harga.
Terutama di daerah-daerah yang menjadi pusat konsumsi namun tidak terdampak bencana alam.
“Menjelang Nataru, kami diminta lebih proaktif di lapangan. Salah satunya dengan mendirikan Posko Pengendalian Harga Sembako di masing-masing pasar. Tujuannya agar pergerakan harga bisa dipantau secara real-time dan cepat diambil tindakan jika ada anomali,” ujarnya.
Bulog telah melakukan koordinasi intensif dengan Satgas Pangan Daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, hingga pengelola pasar.
“Koordinasi ini krusial agar pengendalian harga berjalan efektif dan terintegrasi,” tegasnya.
Posko ini juga berfungsi sebagai titik sentral intervensi pasar. Jika ditemukan indikasi kenaikan harga yang melampaui batas kewajaran, Bulog siap menggelontorkan stok melalui operasi pasar di lokasi tersebut.
Sementara itu, Dinas Perdagangan NTB, Satgas Pangan Polda NTB dan direktur keanekaragaman pangan Bapanas memantau harga dan ketersediaan stok di Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika.
Di Pasar Kebon Roek, harga Beras SPHP Rp 58.000-60.000 per 5 kilogram. Beras SPHP cukup banyak peminat, penjualan dalam sepekan mencapai dua ton.
Sedangkan untuk beras premium untuk harga juga sesuai HET yaitu Rp 14.500 per kilogram. Saat ini Minyakita mengalami kenaikan harga yaitu Rp. 19.000 per liter, gula pasir 17.000 per kilogram, telur ayam ras Rp 48.000-58.000 per tray.
“Di Pasar Mandalika untuk beras SPHP terpantau dengan harga Rp 11.600 - 12.000 per kilogram,” ujar Kepala Disdag NTB Jamaluddin Malady.
Untuk minyak goreng Rp 18.000 per liter merek SIP, gula pasir 17.000 per kilogram, bawang putih Rp 30.000-32.000 per kilogram.
Sedangkan bawang merah Rp 45.000 per kilogram mengalami penurunan karena bawang dari Jawa sudah mulai masuk.
Dari hasil dialog dengan para penjual diketahui untuk minyakita Rp 19.000 per liter. Harganya mengalami kenaikan yang disebabkan karena pasokan dari daerah sentra produksi (Pulau Jawa) menurun.
“Untuk stok sembako di masing-masing pasar dalam kategori aman,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida