Ketua Tim Penempatan BP3MI NTB, Teofilus Suranta Ginting mengungkapkan kawasan Asia Tenggara masih menjadi magnet utama bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB.
"Paling dominan itu masih Malaysia. Jumlahnya mencapai 23.685 orang atau sekitar 88,89 persen dari total penempatan," ujarnya, Kamis (8/1).
Brunei Darussalam menempati posisi kedua dengan 8,64 persen, disusul Singapura 2,47 persen. Menariknya, Jepang mulai dilirik sebagai tujuan baru yang potensial dengan jumlah penempatan 286 PMI.
Kabupaten Lombok Tengah memimpin dengan kontribusi 41,36 persen, diikuti Lombok Timur (33,95 persen), dan Lombok Barat (20,99 persen).
Sementara itu, kontribusi dari wilayah Pulau Sumbawa dan Kota Mataram tercatat masih relatif kecil, di bawah angka 1 persen.
Terkait jenis pekerjaan, sektor perkebunan (plantation worker) menjadi tumpuan utama mencapai 88,27 persen.
Hal ini pula yang menyebabkan komposisi jenis kelamin PMI NTB didominasi oleh laki-laki, yakni 93,21 persen.
"Sektor informal dan padat karya seperti perkebunan dan konstruksi memang masih menjadi pilihan utama. Karakteristik lapangan kerja di negara tujuan memang banyak menyerap tenaga kerja laki-laki," jelasnya.
BP3MI NTB juga merilis daftar perusahaan penempatan (P3MI) dengan performa penempatan tertinggi.
PT Primadaya Pratama Pandukarya tercatat mengirimkan 3.418 orang (13,64 persen), disusul PT Cipta Rezeki Utama dengan 2.425 orang (9,68 persen), dan PT Wira Karitas 2.402 orang (9,58 persen).
Data ini, lanjut Teo akan menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan bagi para pahlawan devisa.
Ia menegaskan agar masyarakat tidak tergiur dengan iming-iming keberangkatan instan melalui jalur non-prosedural.
"Kami terus mengimbau masyarakat untuk berangkat melalui jalur resmi. Ini penting untuk meminimalkan risiko di negara penempatan dan memastikan seluruh hak pekerja terpenuhi sesuai aturan," tandasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post