Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tusha.id dan SOLAH Network Resmi Diluncurkan, Kembangkan Ekosistem Pariwisata Sirkular di Lombok Tengah

Kimda Farida • Rabu, 21 Januari 2026 | 13:08 WIB
Peluncuran Tusha dan SOLAH Network di Tampah Hills, Lombok Tengah, Selasa (20/1), sebagai upaya mendorong pariwisata hijau berbasis ekonomi sirkular.
Peluncuran Tusha dan SOLAH Network di Tampah Hills, Lombok Tengah, Selasa (20/1), sebagai upaya mendorong pariwisata hijau berbasis ekonomi sirkular.

LombokPost--Upaya membangun pariwisata berkelanjutan di Lombok terus diperkuat.

Konsorsium Lombok Eco Kriya yang terdiri dari Plana, Timba, dan Wise Steps Foundation, dengan dukungan Instellar Impact, menggelar kegiatan diseminasi program Ekosistem Pariwisata Hijau berbasis ekonomi sirkular di Tampah Hills, Lombok Tengah, Selasa (20/1).

Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya pelaksanaan program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 yang telah berjalan sejak Februari 2025.

Program ini difokuskan pada penguatan solusi pengelolaan sampah di kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika melalui pendekatan ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat desa penyangga.

Dalam kegiatan tersebut, konsorsium secara resmi meluncurkan Tusha.id, sebuah merek bisnis hijau berbasis masyarakat yang memproduksi hotel amenities ramah lingkungan.

Produk Tusha dihasilkan dari pengolahan sampah plastik dan material Planawood yang dikerjakan langsung oleh masyarakat Desa Bonder, Lombok Tengah.

Perwakilan Konsorsium Lombok Eco Kriya, Ayu Masita, mengatakan bahwa kehadiran Tusha membuka peluang baru bagi masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam rantai pasok industri pariwisata.

“Inisiatif ini menunjukkan bahwa sampah tidak selalu menjadi beban, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Masyarakat desa penyangga kini berperan aktif sebagai pemasok kebutuhan industri pariwisata di Mandalika,” ujarnya.

Beragam produk telah dihasilkan, mulai dari tatakan gelas, gantungan kunci, tray, kotak tisu, hingga botol sampo dan perlengkapan operasional hotel lainnya.

Produk-produk tersebut saat ini telah digunakan oleh sejumlah pelaku industri pariwisata di Lombok, seperti Nine-nine, Mandala Eco Villa, Innit Lombok, Holiday Resort Lombok, serta Tampah Hills.

Selain menciptakan produk ramah lingkungan, program ini juga mencatat dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

Rata-rata pendapatan masyarakat mitra dilaporkan meningkat hingga 30 persen.

Di sisi lain, kesadaran warga terhadap pemilahan sampah berbasis sumber juga meningkat, dengan total 372 warga desa penyangga Mandalika terlibat aktif dalam program edukasi lingkungan.

Sebagai bagian dari upaya keberlanjutan, konsorsium turut memperkenalkan SOLAH Network (Sustainability of Oceans, Land, Air, and Heritage).

Jejaring ini dirancang sebagai wadah kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong praktik pariwisata berkelanjutan di Lombok.

Perwakilan konsorsium menegaskan bahwa SOLAH Network diharapkan menjadi penggerak aksi kolektif lintas sektor agar inisiatif pariwisata hijau tidak bersifat sesaat.

“SOLAH menjadi ruang kolaborasi untuk memastikan praktik pariwisata berkelanjutan dapat terus tumbuh, terukur, dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat Lombok,” ujarnya.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, Lombok Eco Kriya dinilai menjadi salah satu inisiatif awal yang mendorong transformasi pariwisata sirkular di Pulau Lombok, khususnya di kawasan Mandalika.

 

 

Editor : Kimda Farida
#Tusha #Lombok Eco Kriya #pariwisata hijau #pariwisata sirkular #SOLAH Network