Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Konsentrat dan Produk Smelter Penopang Utama Ekspor NTB

Geumerie Ayu • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:31 WIB

Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB M Ahyar (kiri) menjelaskan perkembangan ekspor dan impor NTB, Senin (2/2).
Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB M Ahyar (kiri) menjelaskan perkembangan ekspor dan impor NTB, Senin (2/2).
LombokPost – Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, nilai ekspor pada Desember 2025 menembus angka USD 633 juta.

Sektor pertambangan dan produk smelter (emas dan tembaga) menjadi penopang utama perdagangan luar negeri NTB.

Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB M Ahyar mengatakan, barang galian tambang non migas menyumbang lebih dari separo total ekspor Desember 2025, yakni sebesar 54,76 persen.

Komoditas ini mayoritas dikirim melalui Pelabuhan Benete dengan negara tujuan utama Korea Selatan dan India.

“Ini masih dalam bentuk barang mentah yang belum diolah,” ujarnya, Senin (2/2).

Menariknya, kehadiran industri hilirisasi mulai memberikan warna baru pada potret ekonomi daerah. Komoditas perhiasan/permata mencatatkan andil sebesar 24,68 persen dengan negara tujuan Swiss, Jepang, dan Hong Kong.

"Ini merupakan hasil olahan smelter. Pengirimannya dilakukan melalui jalur udara via Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai karena nilai serta keamanan komoditasnya yang tinggi," jelasnya.

Selain emas, produk tembaga juga menjadi primadona baru yang menyasar pasar Korea Selatan, Thailand, hingga Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Perak.

Jika dikalkulasi, tiga komoditas utama (konsentrat, perhiasan, dan tembaga) menguasai hampir 98 persen total ekspor NTB.

“Sisanya diisi oleh komoditas sektor perikanan, garam, belerang, dan kapur dengan andil di bawah satu persen,” sambungnya.

Meski Desember 2025 mencatatkan angka yang impresif, potret berbeda terlihat jika membandingkan performa tahunan, yakni Januari-Desember 2024 terhadap 2025.

Secara kumulatif tahunan, sektor pertambangan sebenarnya mengalami penurunan sebesar 78,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, penurunan di sektor tambang ini dikompensasi lonjakan tajam di sektor non-tambang yang tumbuh luar biasa hingga 2.073 persen.

"Ada anomali yang positif di penghujung tahun. Jika kita bandingkan total ekspor Desember 2025 yang mencapai USD 633 juta dengan rata-rata bulanan di tahun 2024, terjadi lonjakan total hingga 368 persen," terangnya.

Meski pun angka ekspor terlihat mentereng, ketergantungan NTB pada sektor tambang yang mencapai 98 persen tetap menjadi catatan penting.

Komoditas non-tambang seperti ikan, udang, dan daging olahan masih berjuang di angka nol koma sekian persen.

Ditambahkannya, neraca perdagangan luar negeri NTB menunjukkan dinamika yang kontras antara performa tahunan dan bulanan.

Secara kumulatif, nilai ekspor periode Januari-Desember 2025 tercatat USD 1.442,76 juta. Mengalami kontraksi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang mencapai USD 1.664 juta.

Namun, optimisme muncul dari performa bulanan yang melonjak tajam, pada Desember 2025, nilai ekspor meroket hingga USD 600 juta.

Berbanding terbalik dengan kondisi Desember 2024 yang hanya berada di angka USD 56 juta.

Pemerintah daerah diharapkan terus mendorong diversifikasi produk ekspor agar ekonomi NTB tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas tambang global.

Momentum lonjakan ekspor di akhir 2025 ini diharapkan menjadi modal kuat untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan NTB memasuki tahun 2026.

Editor : Kimda Farida
#Ekspor NTB #perdagangan luar negeri #tambang #produk smelter #Konsentrat #2025