LombokPost – Peti Puspita Sari, gadis asal Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) membuktikan komoditas lokal dapat menjadi penghasil Rupiah yang menggiurkan.
Lewat bendera UD Tapir Barokah, permen susu miliknya kini merajai pasar. Omzetnya pun tidak tanggung-tanggung, mencapai puluhan juta Rupiah per bulan.
Perjalanan Peti membangun bisnis kecilnya tidak terjadi secara instan. Ia mulai menapaki dunia wirausaha sejak masih duduk di bangku SMA pada tahun 2005.
Kala itu, ia hanya menjadi penyambung tangan dengan mengambil barang jadi dari Desa Penyaring, Kabupaten Sumbawa, untuk dipasarkan kembali.
Setelah belasan tahun menjadi reseller, keberanian Peti diuji pada tahun 2020. Ia memutuskan untuk mulai memproduksi permen susu sendiri.
Langkah ini menjadi titik balik penting. "Sejak itu, omzet mulai stabil di angka Rp 15 juta per bulan," kenang Peti.
Meski produksi meningkat, tantangan klasik UMKM tetap menghadang, yakni soal pemasaran.
Selama setahun penuh, usahanya sempat jalan di tempat karena ketergantungan pada sistem pemasaran tradisional. Jangkauan pasarnya hanya berputar-putar di wilayah Sumbawa Barat, itu pun belum maksimal.
Nasib bisnis Peti berubah drastis setelah ia terjaring dalam program pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bekerja sama dengan Narasa Indonesia. Selama dua bulan di Kedai Sawah, KTC, Peti ditempa secara intensif.
Bukan sekadar teori, ia mendapatkan banyak pendampingan. Mulai dari pengembangan kualitas produk, strategi pemasaran digital, hingga pembenahan pola pikir (business mindset).
"Bukan hanya produk yang meningkat, tapi cara pandang saya berubah. Saya menjadi lebih berani mengambil langkah strategis," ungkapnya dengan nada optimis.
Hasil dari pelatihan tersebut langsung terasa di kantong. Omzet permen susu miliknya melonjak dua kali lipat menjadi Rp 30 juta per bulan.
Angka ini bahkan belum termasuk pendapatan dari penjualan madu asli Sumbawa dan susu kuda liar yang juga ikut terkerek naik.
Kini, buah manis dari kerja kerasnya telah berwujud nyata. Peti sukses membangun toko permanen sendiri dan mampu mempekerjakan empat orang karyawan.
Dari seorang gadis yang menjajakan barang orang lain, kini ia menjadi motor penggerak ekonomi di desanya.
"Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bantu orang lain dengan membuka lapangan kerja. Fokus saya ke depan adalah terus memperluas pasar agar permen susu khas KSB ini semakin dikenal luas," pungkasnya.
Editor : Pujo Nugroho