Berdasarkan data perdagangan di Jakarta, mata uang Garuda tercatat melemah 76 poin atau sekitar 0,45 persen.
Saat ini, posisi USD IDR nangkring di level Rp 17.001 per dolar AS, jauh lebih lunglai dibandingkan penutupan sebelumnya yang masih berada di angka Rp 16.925.
Pelemahan tajam ini tidak lepas dari kondisi global yang sedang tidak menentu.
Sebagaimana dikutip dari laporan Radar Solo dan Antara, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa investor saat ini cenderung menghindari aset berisiko atau menerapkan sikap risk off.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dolar AS per barel," ungkap Lukman.
Kenaikan harga emas hitam tersebut dipicu oleh tensi panas geopolitik di Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dilaporkan semakin meluas, sehingga memicu ketakutan pasar akan terganggunya pasokan energi dunia.
Kondisi ini memaksa para investor global mengamankan aset mereka ke tempat yang lebih aman (safe haven), termasuk memborong dolar AS.
Dampaknya, rupiah pun kian tertekan di pasar valuta asing.
Untuk perdagangan hari ini, pergerakan USD IDR diprediksi akan terus bergejolak dalam rentang sensitif antara Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak lanjutan dari penguatan dolar ini terhadap harga-harga barang di dalam negeri.
Editor : Marthadi