Di balik kemasan produknya yang elegan, terselip kisah perjuangan melawan kerusakan kulit akibat kosmetik berbahaya.
Hal itu bahkan sempat menghancurkan rasa percaya dirinya selama bertahun-tahun.
Seperti banyak perempuan lainnya, Susi sempat tergiur hasil instan dari produk kosmetik pasaran. Tanpa disadari, produk yang ia gunakan selama hampir enam tahun itu ternyata mengandung merkuri.
Baca Juga: Rekomendasi Film dan Serial Tentang Misteri Pembunuhan Terbaik Netflix
Bukannya kulit sehat, Susi justru harus menelan pil pahit. Kulit wajahnya rusak parah, memerah, dan jerawat meradang yang tak kunjung usai.
"Saya sampai stres dan bolak-balik ke klinik kecantikan," kenang Susi.
Titik balik terjadi saat ia berkonsultasi dengan dokter dan disarankan fokus pada pemulihan kelembaban kulit.
Selama tiga bulan masa penyembuhan, sebuah ide muncul di benaknya. Ia tidak ingin perempuan lain merasakan penderitaan yang sama.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Skincare Lokal NTB Berbahan Alami, Ada yang Jadi Favorit Wisatawan Asing
Perjalanan membangun Nadiela Glow dimulai pada September 2024. Dia melakukan revisi formula hingga tiga kali demi memastikan kualitas terbaik.
Setelah yakin, ia langsung mematenkan merek dan mengurus izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Desember 2024.
Langkah yang diambil Susi tergolong sangat berani bagi seorang pemain baru industri skincare. Alih-alih memulainya dengan skala kecil, ia langsung memproduksi ribuan unit.
"Harusnya kalau pemula mungkin produksi seribu dulu. Tapi saya nekat langsung produksi 3.500 pot. Alhamdulillah, tidak sampai dua bulan semuanya habis terjual," bebernya.
Baca Juga: Inilah 5 Rekomendasi Drama Terbaik Chen Xing Xu yang Wajib Masuk Daftar Tontonan Anda
Kini, Nadiela Glow bukan sekadar merek dagang. Itu menjadi simbol harapan bagi mereka yang ingin beralih ke produk aman.
Susi sangat menjaga kepercayaan konsumen dengan memastikan setiap produknya bermanfaat dan bebas dari zat berbahaya.
Selain berbisnis, Susi dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Bima. Mulai dari mendukung sesama pelaku UMKM hingga menyokong kegiatan kemasyarakatan.
Baginya, bisnis yang baik adalah bisnis yang mampu memberi manfaat luas bagi sesama.
Dari sebuah trauma masa lalu, Susi kini sukses membangun bisnis. Dia membuktikan kegagalan dan luka bisa diubah menjadi peluang yang menginspirasi banyak orang.
Editor : Kimda Farida