Di tangan dingin Idayani, warga Lingkungan Peresak Barat, Selong, Lombok Timur, deretan panganan kering yang hanya tersaji saat Lebaran, menjelma menjadi bisnis menjanjikan.
Brand milik Idayani ini bernama Desnalida, mulai menjadi langganan di berbagai pusat perbelanjaan besar. Bahkan rutin mengisi stan UMKM di perhelatan internasional MotoGP Mandalika.
Perjalanan Desnalida dimulai dari hobi Idayani membuat kue kering untuk konsumsi keluarga setiap hari raya.
“Tapi dari sana diceritakan ke tetangga, teman-teman, dari mulut ke mulut. Akhirnya banyak pesanan datang dari luar keluarga," ujar Idayani.
Pada masa awal, produknya hanya dikemas menggunakan plastik bening biasa tanpa label. Namun, kualitas rasa yang konsisten membuat pesanan terus mengalir deras.
Titik balik usaha Idayani terjadi pada tahun 2013 ketika bisnisnya masuk dalam radar pembinaan Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Timur.
"Kami dibimbing agar produk tidak hanya enak, tapi kemasannya harus menarik agar bisa bersaing di pasar modern," jelasnya.
Saat ini, Desnalida memproduksi sekitar 15 jenis kudapan di hari biasa, mulai dari kuping gajah, kaliadem, keciput, rempeyek, laderan, hingga kacang telur.
Namun, saat memasuki bulan Ramadan, kapasitas produksinya meningkat tajam hingga mencapai 25 varian kue kering.
Bagi Idayani, Desnalida bukan sekadar urusan mencari cuan. Ada misi besar untuk menjaga warisan kuliner lokal agar tetap eksis.
"Kami sudah diminta Indomaret untuk memasukkan produk ke sana. Tapi saat ini kami masih mematangkan kesiapan produksi karena permintaan mereka sangat besar," ungkap Idayani jujur.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Dracin Bertema 'Chuanyue' Terbaik
Keanggotaannya dalam Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah Mandiri Indonesia (APMIKIMMDO) menjadi katalisator penting.
Melalui asosiasi ini, Desnalida rutin mendapatkan panggung di event internasional seperti MotoGP Mandalika.
"Mudah-mudahan jajanan Lombok ini bisa mendunia. Target saya bisa merekrut lebih banyak karyawan lagi," tandasnya.
Editor : Kimda Farida