LombokPost – Digitalisasi sistem pembayaran di NTB mencatatkan rekor fantastis sepanjang 2025. Bank Indonesia (BI) NTB melaporkan lonjakan volume transaksi QRIS yang mencapai 138,72 persen secara tahunan (yoy).
Fenomena ini mempertegas posisi sektor jasa keuangan sebagai kontributor PDRB NTB kedua terbesar setelah industri pengolahan.
Pertumbuhan masif ini tidak hanya didorong oleh masyarakat lokal. Lonjakan transaksi QRIS juga mulai didominasi wisatawan mancanegara melalui fitur QRIS Cross Border.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Hario K Pamungkas mengatakan, pesatnya penggunaan QRIS di NTB tercermin sejumlah indikator utama yang tumbuh beriringan.
Selain volume transaksi yang meledak di atas 100 persen, jumlah pengguna baru QRIS juga terkerek naik sebesar 6,52 persen.
Sektor UMKM menjadi tulang punggung digitalisasi ini. Jumlah merchant yang mengadopsi QRIS meningkat 18,93 persen.
Tingginya akseptasi ini memudahkan wisatawan maupun warga lokal untuk berbelanja produk lokal, fesyen, hingga kebutuhan rumah tangga secara non-tunai.
Salah satu terobosan yang mulai membuahkan hasil bagi ekonomi daerah adalah integrasi pembayaran antarnegara.
QRIS Cross Border kini menjadi senjata baru untuk meningkatkan spending atau pengeluaran wisatawan asing di NTB.
Hingga saat ini, wisatawan asal Malaysia tercatat sebagai pengguna QRIS lintas batas terbesar di NTB, disusul wisatawan dari Thailand.
Sementara itu, penggunaan turis Singapura masih tercatat cukup kecil. Ini menjadi tantangan bagi BI untuk terus mensosialisasikan QRIS Cross Border.
"Jika wisatawan semakin dimudahkan untuk belanja melalui QRIS, diharapkan belanja mereka untuk produk UMKM dan oleh-oleh khas NTB semakin besar, sehingga langsung mendorong ekonomi rakyat," terangnya.
Sejalan dengan transaksi QRIS, sektor e-commerce di NTB juga tumbuh signifikan mencapai 9,53 persen pada triwulan keempat. Itu didominasi konsumsi produk fesyen dan alat rumah tangga.
Namun, di tengah kemudahan belanja daring, Bank Indonesia memberikan peringatan keras terkait penggunaan fitur Pay Later.
Masyarakat diingatkan untuk tidak lalai dalam membayar tagihan Pay Later karena data transaksi tersebut kini terintegrasi dalam SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan).
"Jangan sampai lupa membayar pay later karena akan tercatat di SLIK. Meski pun SLIK bukan satu-satunya penentu pemberian kredit oleh bank, bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Jika catatan kredit buruk, ini bisa menjadi faktor penghambat saat ingin mengajukan pinjaman di masa depan," tegasnya.
Selain QRIS, instrumen non-tunai lainnya juga menunjukkan tren positif. Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) tumbuh hingga 51,5 persen.
Sementara itu, penggunaan uang elektronik berbasis aplikasi (e-wallet) meningkat 34,6 persen. Ini membuktikan, dompet digital kini sudah menjadi gaya hidup baru masyarakat NTB.
Editor : Prihadi Zoldic