LombokPost – Sebagai upaya stabilisasi harga pasca Idulfitri, Perum Bulog NTB menggelontorkan ribuan ton beras bantuan pangan dan minyak goreng kepada masyarakat.
Langkah strategis ini guna menekan potensi gejolak harga bahan pokok dan menjaga daya beli usai lonjakan konsumsi selama momen hari raya.
Pendistribusian dilakukan secara masif, mulai Jumat (27/3). Salah satunya menyasar Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.
Sebanyak 306 Penerima Bantuan Pangan (PBP) di wilayah tersebut menerima paket bantuan 6,12 ton beras dan 1.224 liter minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026.
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum Bulog NTB Mara Kamin Siregar menegaskan, percepatan distribusi ini merupakan bentuk intervensi nyata pemerintah di tingkat hilir.
Setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mendapatkan jatah 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng.
"Ini adalah upaya kami menjaga stabilitas harga di pasar agar tidak terjadi inflasi yang membebani warga setelah Lebaran. Kami pastikan stok pangan di gudang Bulog NTB dalam kondisi sangat aman," tegas Regar, sapaan akrabnya.
Menurutnya, lonjakan permintaan saat hari raya biasanya meninggalkan residu kenaikan harga di pasar.
Dengan adanya bantuan pangan ini, beban pengeluaran rumah tangga dapat diringankan. Sekaligus menyeimbangkan pasokan dan permintaan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Drakor Bloodhounds 2 Dominasi Chart Global Netflix Meski Belum Dirilis, Rain Jadi Villain Mengerikan
Selain Mataram, distribusi bantuan ini juga bergerak serentak di kabupaten lain. Kantor Cabang Bulog Lombok Timur misalnya, terpantau melakukan penyaluran di Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia.
Regar memastikan, prinsip ketepatan sasaran, waktu, dan jumlah menjadi harga mati dalam penugasan pemerintah ini.
"Program ini berkelanjutan. Kami ingin memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap bahan pangan pokok dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang terjaga," tambahnya.
Secara nasional, program ini merupakan bagian dari pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Skema ini dirancang sebagai sabuk pengaman ekonomi.
Mulai dari perlindungan harga di tingkat petani hingga ketersediaan stok di meja makan konsumen akhir, khususnya kelompok rentan.
Editor : Prihadi Zoldic