LombokPost - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendorong program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai instrumen tempur baru memperkuat rantai pasok nasional.
Langkah strategis ini dirancang untuk memotong mata rantai distribusi yang panjang, menekan ekonomi biaya tinggi.
Termasuk memastikan nilai tambah ekonomi dinikmati langsung oleh rakyat di akar rumput.
Baca Juga: Diskop UKM NTB Dukung Penguatan SDM Pengurus Kopdes Melalui Pelatihan Kompetensi di Kota Mataram
Perang Melawan Tengkulak dan Harga Tinggi
Dalam penegasannya, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa KDKMP memperpendek jalur distribusi komoditas pangan.
Nantinya, petani, peternak, dan nelayan dapat memasok produk mereka langsung ke koperasi tanpa harus melalui perantara atau tengkulak.
"Kita pendekkan rantai distribusi agar ketergantungan pada perantara berkurang. Ini adalah kunci untuk menekan harga di tingkat konsumen sekaligus meningkatkan pendapatan produsen di desa," tegas Presiden.
Tak hanya pasar domestik, pemerintah juga berencana mempermudah regulasi ekspor langsung dari daerah.
Pelabuhan dan bandara akan dibuka aksesnya bagi produk desa yang kompetitif, sehingga potensi lokal bisa langsung menembus pasar internasional tanpa hambatan birokrasi yang berbelit.
Baca Juga: 9 Desa di Lombok Utara Siap Bangun Gedung dan Gerai Kopdes Merah Putih, 34 Desa Terhambat Aset
Hapus Praktik Rentenir dengan Super Micro Financing
Salah satu poin krusial dalam misi KDKMP adalah pemberdayaan sosial-ekonomi melalui fasilitas super micro financing.
Program ini dihadirkan khusus untuk menyapu bersih praktik rentenir yang selama ini menjerat pelaku usaha kecil dengan bunga mencekik.
Visi Indonesia Incorporated
Presiden juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Badan Pengelola Investasi Danantara yang mampu menghasilkan efisiensi hingga empat kali lipat dalam waktu singkat. Ke depan, target return on asset dipatok lebih dari tujuh persen melalui pengelolaan yang akuntabel.
Presiden menekankan pentingnya sinergi dalam konsep Indonesia Incorporated. "Yang besar maju, tarik yang kurang kuat. Yang kuat, tarik yang lemah. Semua elemen ekonomi dari skala besar hingga ultra-mikro harus bekerja sama secara sinergis untuk kebangkitan Indonesia," pungkasnya.
Editor : Redaksi