LombokPost - Destinasi wisata di Lombok Tengah tidak hanya bertumpu pada kemegahan sirkuit atau eksotisme pantai.
Di balik layar populernya Bumi Tatas Tuhu Trasna, Desa Batujai muncul sebagai kekuatan baru ekonomi kreatif.
Melalui kerajinan tenun tradisional, Batujai menjadi simbol identitas sekaligus penggerak ekonomi desa.
Baca Juga: Tenun Muna Pa’a Dompu Dibidik Jadi Indikasi Geografis, Kemenkum NTB Gandeng Dispar Genjot KI!
Tenun Desa Batujai menawarkan pengalaman otentik bagi wisatawan yang mencari nilai filosofi dalam selembar kain.
Menggunakan alat tradisional gedogan, perempuan di desa ini mewarisi keahlian menenun secara turun-temurun.
Mereka terus menjaga motif-motif ikonik seperti Subhanale dan Cecak tetap hidup.
Baca Juga: Sengketa Lahan Kantor Desa Kebon Ayu, Pemkab Lobar Siapkan Opsi Relokasi ke Gedung Showroom Tenun
Menariknya, pasar tenun Batujai kini mulai beradaptasi dengan selera Milenial dan Gen Z. Meleke, salah satu pelaku UMKM sekaligus perajin di sentra tenun Batujai membeberkan adanya pergeseran minat konsumen pada pemilihan warna. Jika dulu warna-warna gelap mendominasi, kini warna cerah jadi primadona.
Seperti peach dan merah muda. “Tren ini sangat membantu penjualan kami karena produk jadi lebih masuk ke dunia fesyen modern,” ujarnya.
Kain-kain ini kini tidak hanya berakhir sebagai kain sarung. Mereka bertransformasi menjadi syal, hiasan dinding, hingga material utama high fashion yang diminati pasar nasional.
Baca Juga: Kantor Wali Kota Mataram Konsep Modern dan Sentuhan Motif Tenun Subahnale
Di tengah geliat penjualan, para perajin menghadapi tantangan besar terkait edukasi harga.
Meleke menyayangkan masih banyaknya konsumen yang terjebak dengan harga murah tanpa memahami proses di baliknya.
Harga selembar kain tenun asli mahal karena handmade dan butuh ketelitian tinggi.
“Kalau ada yang jual Rp 100 ribuan, bisa dipastikan itu buatan mesin atau pabrikan. Ini sering jadi sandungan bagi kami yang menjaga keaslian budaya,” tegasnya.
Menurutnya, kain tenun asli bukan sekadar komoditas sandang, melainkan investasi seni. Wisatawan yang berkunjung ke Batujai diajak untuk melihat langsung proses rumit dari helai benang hingga menjadi motif. Hal ini secara tidak langsung memberikan pemahaman logis mengenai harga jual produk.
Sinergi antara pariwisata edukasi dan ekonomi kreatif ini diharapkan mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah. Terutama dalam hal promosi digital dan perlindungan produk asli daerah. “Agar kain tenun Batujai tetap hidup sebagai simbol identitas dan kebanggaan lokal yang mampu bersaing di era globalisasi,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Redaksi