LombokPost - Fondasi ekonomi NTB yang ditopang oleh sektor riil kini menghadapi tantangan serius.
Meski data makro menunjukkan stabilitas, namun di tingkat bawah, para pelaku UMKM mulai merasakan hantaman keras akibat kenaikan biaya produksi yang dipicu tekanan pasar global.
Pemerhati ekonomi NTB Iwan Harsono mengingatkan, situasi ini telah menyentuh langsung aspek operasional UMKM. Terutama terkait kenaikan harga bahan baku mulai dari kemasan, biaya energi, hingga komponen bahan impor.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Pelaku UMKM Kebingungan
Secara makro, inflasi di Provinsi NTB memang tercatat masih relatif terkendali di kisaran 2-3 persen. Namun Iwan menekankan, angka statistik tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas pahit yang dirasakan para pengusaha lokal.
"Angka inflasi ini tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan yang dirasakan pelaku usaha. Di tingkat mikro, biaya produksi naik jauh lebih cepat dibanding kemampuan mereka untuk menaikkan harga jual," ujar Iwan, Minggu (12/4).
Menurutnya, ketimpangan antara kenaikan biaya dan daya beli masyarakat membuat posisi UMKM kian sulit.
Baca Juga: Integrasi Instagram & WhatsApp: Solusi Omnichannel untuk Tim UMKM
"Kalau kita tanya pelaku UMKM di Lombok, jawabannya sederhana, yang naik itu biaya, bukan keuntungan," tambahnya.
Untuk menyiasati margin usaha yang kian tergerus, banyak pelaku usaha di NTB mulai menerapkan strategi darurat.
Beberapa di antaranya memilih untuk mengurangi ukuran produk. Beberapa juga memilih menaikkan harga jual secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen.
Namun, Iwan menilai langkah-langkah ini hanyalah strategi bertahan, bukan untuk ekspansi atau perkembangan bisnis. Kondisi ini dikhawatirkan akan menghambat inovasi dan daya saing produk lokal dalam jangka panjang.
Dampak dari tekanan biaya ini diprediksi tidak hanya berhenti di meja pengusaha. Mengingat struktur ekonomi NTB sangat bergantung pada sektor UMKM, pelemahan di sektor ini akan memicu efek domino.
Di antaranya, penurunan kapasitas produksi berpotensi mengurangi jam kerja atau serapan tenaga kerja lokal. Penurunan margin laba UMKM berdampak pada berkurangnya pendapatan rumah tangga yang bergantung pada sektor ini.
Tekanan pada sektor riil ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan di tahun 2026.
Iwan menyimpulkan, saat ini NTB sedang menghadapi ujian ketahanan. Ia mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan efisiensi produksi bagi pelaku usaha. Tujuannya agar tidak terus menjadi pihak yang paling rentan terhadap gejolak global. "Kita tidak hanya bicara soal angka pertumbuhan, tetapi soal ketahanan. Di situlah masa depan ekonomi NTB sedang diuji," pungkasnya.
Sebagai contoh, harga kedelai impor menyentuh angka Rp 13.500 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 10 ribuan. Para produsen tahu dan tempe Mataram menghadapi dilema atas kondisi ini.
“Siasatnya ya dikurangi isinya sedikit, ketebalannya dikurangi. Tidak bisa langsung dinaikkan harga jualnya karena pelanggan pasti protes," jelas Ripai, salah seorang perajin tahu-tempe di Kekalik, Mataram. (fer/r6)
Editor : Redaksi