Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Diminati Wisatawan, Kerupuk Cakep Melanglang Buana Hingga Kanada

Geumerie Ayu • Rabu, 29 April 2026 | 23:07 WIB
PENGEMASAN: Sejumlah anggota Poklahsar Ingin Maju melakukan proses pengemasan kerupuk cangkang kepiting (Cakep), beberapa waktu lalu. (Istimewa)
PENGEMASAN: Sejumlah anggota Poklahsar Ingin Maju melakukan proses pengemasan kerupuk cangkang kepiting (Cakep), beberapa waktu lalu. (Istimewa)

LombokPost – Siapa sangka, limbah cangkang kepiting yang dulunya dibuang percuma kini bertransformasi menjadi pundi-pundi Rupiah bagi masyarakat pesisir Lombok Timur.

Di tangan kreatif Eli Marsiana dan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Ingin Maju, limbah makanan itu diolah menjadi kerupuk renyah bermerek Cakep (cangkang kepiting).

Kerupuk Cakep bahkan menjadi best seller di kalangan wisatawan mancanegara. Berlokasi di Dusun Kuranji, Desa Pare Mas, usaha kerupuk ini menjadi motor penggerak ekonomi baru.

Baca Juga: Simak Jadwal, Rincian Nominal beserta Ketentuan Terbaru Pencairan Bansos PKH Tahap 2 Tahun 2026

Tidak hanya di sekitar lokasi usaha, tapi mampu menembus pasar internasional seperti Malaysia hingga Kanada.

Perjalanan kerupuk Cakep bermula pada tahun 2017 melalui pelatihan dari Universitas Mataram. Eli yang jeli melihat peluang, mencoba mengolah cangkang kepiting yang melimpah dan murah dari pengepul di wilayah Ujung Pemongkong. 

Bahkan, saking melimpahnya, bahan baku awal sering diperoleh dengan sistem barter kerupuk.

Baca Juga: Bikin Baper! 3 Momen Menggemaskan Yoo Yeon Seok dan Esom dalam Drakor Phantom Lawyer

"Dulu cangkang kepiting hanya limbah yang dibuang. Sekarang kami ubah menjadi produk bercita rasa istimewa yang dicari banyak orang," ujar Eli.

Loncatan besar bisnis ini terjadi setelah Poklahsar Ingin Maju mendapatkan sentuhan program Gumi Seri. Program hasil kolaborasi PT Amman, Pemkab Lombok Timur, Forward Indonesia, dan Yayasan ADBMI ini fokus pada pemberdayaan sektor pariwisata dan peningkatan kualitas SDM secara inklusif.

Melalui program ini, Eli mengaku mendapatkan ilmu manajemen bisnis yang krusial. "Dulu pencatatan keuangan kami amburadul. Berkat pendampingan Gumi Seri, sekarang sudah rapi dengan pembukuan yang lengkap," jelasnya.

Baca Juga: Akses Hukum Makin Mudah, Ditjen PP dan Kanwil Kemenkum NTB Dorong Pemanfaatan Peraturan.go.id

Selain manajemen, inovasi produk juga semakin berkembang. Kini Cakep hadir dengan berbagai varian rasa seperti kelor, daun alfa, hingga varian cumi yang menjadi favorit utama para turis.

Efektivitas promosi melalui media sosial dan testimoni langsung wisatawan membawa Cakep melampaui pasar kios lokal. Kini, kerupuk ini menjadi stok wajib di berbagai homestay dan penginapan di Lombok Timur.

"Beberapa kali kami sudah mengirim ke Malaysia dan Kanada," beber Eli.

Kehadiran usaha sampingan ini menjadi penyelamat bagi ekonomi keluarga nelayan di Desa Pare Mas. Sebelum menekuni usaha ini, mereka sangat bergantung pada hasil laut yang tidak menentu, terutama saat cuaca buruk melanda.

Baca Juga: Kabar Gembira! Bansos Tahap 2 2026 Mulai Cair Bertahap via Kartu KKS, Aceh Jadi Pionir

Kini, dengan anggota sebanyak 13 ibu rumah tangga, Poklahsar "Ingin Maju" mampu mencatatkan kenaikan omzet yang signifikan. Setiap bulan Poklahsar Ingin Maju rata-rata memperoleh Rp 3,5 juta.

Sebelum pelatihan hanya Rp 2-2,5 juta. Satu kemasan produk Cakep hanya dibandrol Rp 5 ribu, sedangkan kerupuk mentahnya dijual seharga Rp 40 ribu perkilogram. 

Produksinya dilakukan sebanyak tiga kali sepekan. Satu kali produksi, diperlukan sekira 10 kilogram cangkang kepiting.

Baca Juga: Hapus Plt Kepala Sekolah Dipercepat, Kemendikdasmen Target Semua Definitif

“Dulu cangkang kepiting jadi limbah yang dibuang, sekarang kita ubah jadi kerupuk dan jadi pundi ekonomi keluarga,” ujarnya.

Namun sementara waktu, Eli mengatakan keuntungan sebagian besar untuk pengembangan usaha. Keuntungan yang disisihkan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulannya.

 

Editor : Akbar Sirinawa
#kerupuk cangkang kepiting #poklahsar #kanada #ekspor #Lombok Timur