LombokPost - Di tengah badai ekonomi global yang memicu lonjakan harga energi, perbankan domestik rupanya punya "imunitas" tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat intermediasi perbankan Indonesia tetap resilien dengan rapor hijau pada Maret 2026.
Penyaluran kredit sukses menyentuh angka Rp 8.659,05 triliun atau tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebutkan bahwa mesin pertumbuhan ini digerakkan secara kompak oleh Bank BUMN, bank swasta nasional, hingga kantor cabang bank luar negeri.
Yang paling mencolok, sektor konstruksi menjadi "jawara" dengan pertumbuhan raksasa mencapai 46,67 persen.
"Viginitas pasar global memang jadi perhatian, tapi industri perbankan kita punya modal kuat dan likuiditas yang lebih dari cukup untuk menyerap tekanan," tegas Dian dalam keterangannya, Rabu (6/5).
Baca Juga: REI NTB Dukung Aturan Baru SLIK OJK
UMKM Pecah Telur
Kabar paling menggembirakan datang dari sektor UMKM. Setelah sempat layu dan mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya, kredit UMKM akhirnya "pecah telur" dengan kembali mencatatkan pertumbuhan positif 0,12 persen.
Total duit yang mengalir ke kantong pengusaha cilik ini mencapai Rp 1.498,64 triliun.
Baca Juga: Dorong KPR Subsidi, OJK Relaksasi SLIK
Guna menjaga momentum ini, OJK resmi merilis POJK Nomor 19 Tahun 2025. Aturan anyar ini menjadi "karpet merah" bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mendapatkan akses modal yang lebih murah, cepat, dan inklusif.
Strategi ini sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam memberantas kemiskinan dan memeratakan ekonomi.
"Kredit UMKM menunjukkan indikasi perbaikan di tengah tekanan daya beli masyarakat. Sektor pertanian dan pariwisata jadi penyumbang utama kembalinya gairah di segmen ini," tambah Dian.
Likuiditas Melimpah, Risiko Terjaga
Masyarakat pun tampaknya kian gemar menabung. Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 13,55 persen menjadi Rp 10.230,81 triliun.
Menariknya, simpanan dalam bentuk Giro tumbuh paling pesat sebesar 21,37 persen, disusul Tabungan dan Deposito.
Meskipun kucuran kredit mengalir deras, OJK memastikan perbankan tidak "ugal-ugalan".
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) net di level rendah 0,83 persen.
Dengan likuiditas yang masih longgar, perbankan nasional diprediksi masih punya ruang gerak yang luas untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
Editor : Redaksi Lombok Post Online