LombokPost – Perekonomian NTB mencatatkan performa baik pada awal 2026. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi NTB Triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen secara tahunan (yoy).
Lonjakan signifikan ini dipicu kuatnya kinerja ekspor serta mulai optimalnya operasional industri pengolahan di NTB.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Hario K Pamungkas menjelaskan, pertumbuhan dua digit ini selaras dengan realisasi ekspor konsentrat tembaga yang tetap kuat hingga April 2026.
Selain faktor ekspor yang tumbuh hingga 91,87 persen, Hario menyebutkan konsumsi domestik turut berperan vital.
Baca Juga: Suzuki Dzire, Elegan Idaman Kaum Urban
Momentum Ramadan dan Idulfitri pada triwulan pertama menjadi mesin penggerak konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga.
"Peningkatan juga terlihat pada konsumsi pemerintah, didorong oleh realisasi gaji ke-14 bagi pegawai pemerintah. Kombinasi faktor ekspor dan daya beli masyarakat ini menjaga stabilitas pertumbuhan kita," jelas Hario.
Secara sektoral, struktur ekonomi NTB masih didominasi sektor pertanian dengan pangsa pasar mencapai 22,04 persen.
Namun, sorotan utama tertuju pada sektor industri pengolahan. Sektor tersebut kini masuk dalam jajaran lima besar penyumbang ekonomi NTB.
Baca Juga: Ini Langkah DPD PIM NTB Tindak Lanjuti Hasil Rakernas PIM II Jakarta
"Dengan mulai beroperasinya smelter tembaga secara optimal, kinerja industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 60,25 persen. Ini adalah sinyal positif bahwa hilirisasi industri di NTB mulai membuahkan hasil nyata," terang Hario.
Rincian struktur ekonomi NTB Triwulan I 2026 di antaranya, sektor pertanian 22,04 persen. Disusul sektor pertambangan 16,64 persen, perdagangan 14,42 persen, konstruksi 9,29 persen, dan industri jasa pengolahan 6,94 persen.
Kombinasi antara sektor seperti pertanian dan modernisasi melalui hilirisasi industri pengolahan diharapkan dapat menjaga tren positif ekonomi NTB sepanjang 2026.
Dengan berakhirnya izin ekspor konsentrat pada April lalu, fokus kini beralih pada pengolahan nilai tambah melalui fasilitas smelter.
Baca Juga: Smelter Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi NTB
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan I 2026 telah mencapai Rp 52,62 triliun. Secara tahunan, ekonomi NTB tumbuh 13,64 persen.
“Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan sebesar 60,25 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 91,87 persen,” jelasnya.
Meskipun secara tahunan tumbuh tajam, secara kuartal, ekonomi NTB mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen dibandingkan Triwulan IV-2025.
Dari sisi produksi, kontraksi terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 31,02 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami kontraksi terbesar yakni 25,95 persen.
Baca Juga: Hilirisasi Smelter, Kedaulatan Ekonomi NTB Jangka Panjang
Editor : Akbar Sirinawa