LombokPost— Kinerja makroekonomi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada awal tahun ini menunjukkan indikasi perlambatan, khususnya pada sektor komoditas unggulan. Lapangan usaha (LU) pertambangan dan penggalian Kaltim mulai kehilangan tenaga pada triwulan I 2026. Setelah mencatatkan pertumbuhan pada akhir tahun lalu, sektor andalan Bumi Etam itu berbalik terkontraksi 1,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), terutama akibat melemahnya ekspor batu bara.
Penurunan performa sektor ekstraktif tersebut secara linear dipengaruhi oleh draf penurunan volume perdagangan luar negeri. Kontraksi tersebut dipicu turunnya volume ekspor batu bara yang tercatat menyusut 7,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Menurunnya permintaan dari negara mitra dagang utama di tengah terbatasnya kapasitas produksi menjadi faktor utama yang menekan kinerja sektor pertambangan," ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim Jajang Hermawan, Senin (29/6/2026).
Hambatan Regulasi RKAB dan Pemulihan Domestik Tiongkok
Dari draf analisis internal, kendala operasional bersumber dari aspek regulasi tata kelola domestik serta dinamika pasar internasional. Jajang menerangkan, dari sisi produksi, implementasi kebijakan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat aktivitas produksi maupun pengiriman batu bara belum berjalan optimal. Di saat bersamaan, pelemahan permintaan dari pasar ekspor semakin memperbesar tekanan terhadap sektor pertambangan.
Faktor eksternal lainnya yang memperparah tekanan ini adalah kebijakan substitusi impor oleh negara tujuan ekspor terbesar. Kondisi tersebut diperparah oleh mulai pulihnya produksi batu bara domestik di Tiongkok. Pada triwulan I 2026, produksi batu bara negara tersebut kembali membaik setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Meningkatnya pasokan dalam negeri membuat kebutuhan impor Tiongkok berkurang sehingga ekspor batu bara Indonesia ikut tertahan.
Meskipun aktivitas riil di lapangan mengalami penurunan volume, aspek intermediasi perbankan terhadap sektor ini terpantau masih ekspansif. Penyaluran kredit ke sektor ini tercatat tumbuh 22,04 persen (yoy) pada triwulan I 2026. Namun, peningkatan pembiayaan tersebut belum mampu mengangkat produksi maupun ekspor yang masih dibayangi lemahnya permintaan global.
"Peningkatan pembiayaan tersebut belum sepenuhnya terefleksikan pada perbaikan produksi dan kinerja ekspor batu bara yang masih menghadapi tekanan dari sisi permintaan eksternal dan penyesuaian produksi domestik," kata Jajang.
Anomali Cuaca dan Tingginya Curah Hujan
Selain draf hambatan administratif dan pasar, faktor alam turut andil dalam menghambat rantai pasok logistik. Curah hujan melonjak 41,11 persen (yoy) dengan rata-rata mencapai 278,3 milimeter per bulan selama triwulan I 2026. Tingginya intensitas hujan menghambat aktivitas penambangan, hauling, hingga pengiriman batu bara sehingga produksi belum dapat berlangsung optimal.
Akumulasi tekanan dari sisi eksternal, penyesuaian produksi, dan faktor cuaca membuat sektor pertambangan Kaltim belum mampu kembali ke jalur pertumbuhan pada awal 2026.
Sektor Industri Pengolahan Tetap Tumbuh Melandai
Di sisi lain, diversifikasi ekonomi melalui sektor manufaktur setidaknya menjadi penopang agar pertumbuhan regional tidak merosot lebih dalam. Beruntung kinerja lapangan usaha industri pengolahan tetap mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan I 2026. Namun, lajunya mulai melandai setelah sempat melonjak tinggi pada akhir tahun lalu.
Dijelaskan Jajang, sektor industri pengolahan tumbuh 3,11 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 13,89 persen. Menurut dia, perlambatan tersebut lebih dipengaruhi proses normalisasi pertumbuhan setelah sektor industri mencatat ekspansi tinggi dalam beberapa periode terakhir. Selain itu, pengaruh efek basis rendah pada tahun sebelumnya juga mulai berkurang.
"Meski demikian, sektor industri pengolahan masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, didukung oleh berlanjutnya aktivitas produksi subsektor pengolahan migas sejalan dengan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan secara bertahap," terangnya.
Optimalisasi kapasitas pabrikasi ini juga tercermin dari draf arus masuk logistik penunjang. Aktivitas industri juga masih ditopang kebutuhan bahan baku yang tetap tinggi. Hal itu terlihat dari volume impor bahan baku yang tumbuh 13,89 persen (yoy), seiring meningkatnya kebutuhan pasokan untuk pengolahan migas setelah bertambahnya kapasitas kilang RDMP RU V Balikpapan.
Tantangan Pemulihan Industri Nonmigas
Kendati demikian, draf perbaikan struktur industri pengolahan di Kaltim dinilai belum merata sepenuhnya. Sejumlah subsektor nonmigas masih menghadapi tekanan. Salah satunya terlihat dari volume ekspor crude palm oil (CPO) yang masih terkontraksi 7,23 persen (yoy), meski kondisinya lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 15,07 persen.
Lebih lanjut, indikator investasi fisik pada subsektor pendukung lainnya terpantau masih menahan diri. Nilai impor bahan baku dan barang modal juga masih mengalami kontraksi masing-masing 13,20 persen (yoy) dan 30,57 persen (yoy).
"Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas investasi dan sebagian proses produksi pada subsektor lainnya masih belum sepenuhnya pulih," kata Jajang.
Sebagai simpulan, otoritas bank sentral memandang struktur ekonomi daerah masih memiliki draf ketahanan yang cukup baik berkat topangan sektor sekunder. Menurut BI, kondisi tersebut menunjukkan sektor industri pengolahan Kaltim masih memiliki daya tahan berkat penguatan subsektor migas. Namun, pemulihan yang lebih merata masih bergantung pada membaiknya kinerja industri nonmigas dan aktivitas investasi di sektor pengolahan.
Editor : Redaksi Lombok Post