Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cetak Rekor Sejarah, Laba Bersih BEI Tembus Rp 1,07 Triliun pada 2025

Redaksi Lombok Post • Senin, 29 Juni 2026 | 23:34 WIB
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)

LombokPost— PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan kinerja keuangan terbaik sepanjang sejarah pada 2025. Di tengah gejolak pasar akibat perang dagang global, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian geopolitik, operator bursa tersebut berhasil mencatat laba bersih Rp 1,07 triliun atau melonjak 59,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Akselerasi performa finansial ini dipengaruhi secara linier oleh tingginya volume aktivitas perdagangan instrumen investasi di pasar domestik.

”Lonjakan laba ditopang meningkatnya aktivitas pasar modal sepanjang 2025 yang mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Berdasarkan draf laporan keuangan perseroan, sepanjang 2025, pendapatan BEI meningkat 29,8 persen, sementara kenaikan beban operasional berhasil ditekan di level 17,1 persen.

Struktur penerimaan emiten operator bursa ini masih didominasi oleh sektor utama penunjang pasar. Sebagian besar pendapatan, yakni 76,8 persen, masih berasal dari aktivitas transaksi di pasar modal. Namun, pendapatan nontransaksi juga tumbuh 14,6 persen, sedangkan pendapatan lainnya meningkat 17 persen.

Kondisi tersebut ikut memperkuat posisi keuangan perseroan. Total aset naik 32 persen menjadi Rp 14,78 triliun, sedangkan ekuitas meningkat 14 persen menjadi Rp 9,45 triliun.

”Capaian tersebut mencerminkan kemampuan BEI menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat struktur permodalan di tengah dinamika pasar,” katanya.

Dari sisi pendanaan emiten baru, korporasi mencatatkan draf pertumbuhan yang positif melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Sebanyak 26 perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan kapitalisasi pasar Rp155,2 triliun saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai Rp 18,1 triliun atau naik 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, instrumen pendanaan sekunder berbasis utang serta hak memesan efek juga berkontribusi besar pada likuiditas pasar modal sepanjang periode tersebut. Penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) mencapai Rp 217,4 triliun. Sementara melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dan waran tercatat sebesar Rp 43,7 triliun.

Indikator inklusi keuangan di sektor pasar modal juga memperlihatkan draf ekspansi yang masif, tercermin dari pertumbuhan basis investor ritel secara nasional. Hingga akhir 2025, jumlah single investor identification (SID) mencapai 20,3 juta atau meningkat 37 persen dibandingkan 2024.

Penguatan ekosistem pasar modal dilakukan melalui lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi, pengembangan aplikasi IDX Mobile yang kini memiliki 463 ribu pengguna, serta penambahan galeri investasi menjadi 1.015 lokasi.

Menatap draf rencana jangka panjang perseroan, jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia telah merumuskan target geostrategis yang mencakup skala global. Ke depan, BEI membidik masuk dalam jajaran 10 bursa efek terbesar dunia pada 2030.

Target tersebut akan dicapai dengan mendorong kapitalisasi pasar hingga Rp 30.000 triliun, rata-rata nilai transaksi harian Rp 31 triliun, lebih dari 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pasar modal.

”Kami telah menetapkan target Bursa Efek Indonesia pada tahun 2030,” pungkas Jeffrey.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#bei #bursa efef indonesia #saham