Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bisnis Selada Bisa Hasilkan Jutaan Rupiah

Geumerie Ayu • Rabu, 15 Juli 2026 | 18:07 WIB
CUAN BESAR: Lalu Muliadi Irman menunjukkan hasil panen selada hidroponik rumahan miliknya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)
CUAN BESAR: Lalu Muliadi Irman menunjukkan hasil panen selada hidroponik rumahan miliknya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost – Keterbatasan ruang di kawasan perkotaan urban bukanlah alasan mengembangkan bisnis.

Lalu Muliadi Irman, seorang teknisi komputer asal Kelurahan Tiwu Galih, Lombok Tengah membuktikan sisa ruang sempit di rumah mampu menghasilkan cuan yang menjanjikan.

Pria yang akrab disapa Irman ini berhasil merombak fungsi lahan mati seluas 1,5 are menjadi greenhouse.

Memanfaatkan sistem hidroponik paralon bertingkat, Irman mengoptimalkan ruang vertikal untuk menampung hingga 1.200 lubang tanam selada segar.

Baca Juga: Drake Follow Akun Medsos Jungkook BTS, Sinyal Kolaborasi?

Hasilnya, bisnis sampingan yang awalnya dirancang untuk mengusir kejenuhan dari rutinitas, kini mapan memasok kebutuhan sayur premium di daerah Praya.

Omzet bersihnya menyentuh Rp 5 juta per siklus panen.

"Pekerjaan utama saya tetap teknisi komputer dan laptop. Namun, melihat potensi ruang kosong di atas rumah, saya terapkan prinsip efisiensi teknologi,” ujarnya.

“Dengan manajemen nutrisi yang tepat, perputaran modal dari 1.200 lubang tanam ini justru menghasilkan margin keuntungan bersih yang sangat tinggi," sambung Irman.

Baca Juga: Bikin UMKM Banjir Rezeki, Ternyata Ini Rahasia Teras Udayana Jadi Ruang Publik Terfavorit di Mataram

Rahasia bisnis hidroponik Irman terletak pada konsistensi masa panen yang dikunci pada angka 40 hari.

 Menurut kalkulasinya, memanen selada pada usia satu bulan sepuluh hari merupakan titik optimal untuk menghasilkan bobot maksimal. Sekaligus menjaga tekstur daun tetap renyah tanpa rasa getir.

Ketepatan mutu ini membuat selada Irman lolos kurasi ketat pasar hilir. Tanpa perlu mengecer, hasil panennya langsung diserap pengepul besar untuk didistribusikan ke hotel, restoran, bisnis kemitraan kebab, hingga pemenuhan bahan baku program Dapur Makan Bergizi Gratis di Lombok Tengah.

Harga jual grosir dipatok di kisaran Rp 35-40 ribu per kilogram. Ini menjadi jangkar pendapatan yang stabil di tingkat produsen.

Dijelaskannya, tantangan terbesar bukanlah masalah modal. Melainkan fluktuasi harga akibat serbuan sayuran konvensional dari Sembalun. Ketika pasokan Sembalun melimpah, harga selada di pasar lokal kerap anjlok drastis.

Untuk mempertahankan daya tawar bisnisnya, Irman mengandalkan keunggulan produk hidorponik yang bebas pestisida kimia. Ia memitigasi serangan hama jamur mata kodok menggunakan formula pestisida organik berbasis ekstrak bawang putih.

Baca Juga: Mobil Listrik SMKN 1 Lingsar Tembus Shell Eco-Marathon, Jadi Satu-satunya Wakil SMK Indonesia

Strategi jaminan keamanan pangan inilah yang membuat para pemilik restoran dan pengepul tetap setia membeli produknya. Terlepas dari dinamika harga di pasar tradisional.

Editor : Akbar Sirinawa
ruang sempit cuan BISNIS hidroponik Selada