Sherpa Montana, Ketika Hobi Menghasilkan Cuan

Ferial Ayu • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 22:25 WIB
HOBI JADI CUAN: Taufan Ade Chandra, Owner Sherpa Montana yang mengubah hobi jadi peluang cuan yang menjanjikan. (FERIAL/LOMBOK POST)
HOBI JADI CUAN: Taufan Ade Chandra, Owner Sherpa Montana yang mengubah hobi jadi peluang cuan yang menjanjikan. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Demam gaya hidup aktivitas luar ruangan di kalangan generasi muda NTB tidak lagi sekadar tren musiman.

Maraknya pembukaan destinasi wisata telah menjelma menjadi ceruk pasar ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan.

Taufan Ade Chandra, owner Sherpa Montana di Mataram. Memiliki hobi berpetualang di alam terbuka sejak lama. Hal ini yang membuatnya tertarik merintis bisnis penyewaan alat outdoor.

Berdiri sejak Agustus 2015, Sherpa Montana menjadi saksi sekaligus pelaku yang merekam evolusi tren pendakian di Pulau Lombok.

Baca Juga: Surya Bakti Handycraft, Kerajinan Unik dari Batok Kelapa

Berawal dari modal beberapa unit perlengkapan dasar, Taufan sukses mentransformasi usahanya menjadi sentra penyedia ekosistem alat petualang yang diperhitungkan.

Latar belakangnya sebagai mantan anggota pencinta alam masa sekolah dan kuliah menjadi modal utama.

Pemahaman mendalam terkait standar keamanan alat medan ekstrem dipadukan dengan tajamnya insting bisnis membaca arah pasar.

"Usaha ini lahir dari kombinasi passion dan analisis peluang saat tren pendakian anak muda mulai meledak, terutama ketika bukit-bukit baru di Sembalun gencar dibuka. Karena saya paham dunianya, mengelola bisnis ini terasa mengalir dan produktif," tutur Taufan.

Baca Juga: Waidah Mutiara Lombok Tembus Pasar Spanyol hingga Jepang

Kunci ketahanan bisnis Sherpa Montana selama hampir 11 tahun terletak pada kelincahan beradaptasi terhadap dinamika pasar.

Pada dekade awal, dominasi persewaan dikuasai oleh tenda, carrier, dan sleeping bag. Namun kini Taufan menangkap pergeseran perilaku konsumen.

Menjamurnya tren pendakian tektok atau naik turun gunung tanpa menginap serta rekreasi glamping keluarga membuat Taufan merombak portofolio produknya.

Koleksi alat lari gunung seperti hydropack, sepatu trail, dan trekking pole diperbanyak. Bersanding dengan set meja-kursi lipat, kompor, hingga alat grill outdoor untuk segmen piknik keluarga.

Di tengah ketatnya persaingan rental alat outdoor, Sherpa Montana menerapkan strategi penetapan harga yang sangat fleksibel. Tarif sewa dibanderol kompetitif mulai dari Rp 5.000-40.000 per malam.

Jaminan penyewaannya berupa KTP, SIM, atau Kartu Mahasiswa. Hasilnya, pada siklus peak season akhir pekan, lalu lintas pesanan mampu menyerap 50-70 unit peralatan.

Baca Juga: Setahun, Pemkot Bima Perbaiki 500 Rumah Tak Layak Huni

Di balik manisnya perputaran modal, Taufan mengakui tantangan operasional terbesar bisnis persewaan terletak pada manajemen risiko aset.

Proses pencucian tenda pasca-hujan, perbaikan berkala, hingga mitigasi risiko alat rusak oleh konsumen membutuhkan ketelatenan tinggi.

Diimbangi dengan promosi digital yang aktif di media sosial, Sherpa Montana membuktikan bisnis dari hobi ini mampu bertahan lintas dekade. Bahkan terus memetik cuan dari industri pariwisata alam NTB.

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
Sherpa Montana Taufan Ade Chandra bisnis penyewaan alat outdoor BISNIS mendaki